Festival layang-layang di Bali lebih banyak digelar di kawasan pesisir seperti Pantai Mertasari dan Padanggalak, Denpasar. Namun, Batur Kite Festival menghadirkan konsep berbeda. Mereka menggelar festival layangan di kawasan wisata Black Lava, Gunung Batur, Kintamani.
Pantauan detikBali, sekitar 200 layang-layang berjubah plastik mengudara di kawasan wisata tersebut sejak pukul 10.00 Wita pada Minggu (26/7/2026). Momen paling seru terlihat saat peserta kategori belolong plastik menerbangkan layangan mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Layangan sepanjang 1 meter itu mengudara bersamaan dengan layangan lain. Walhasil, beberapa layangan bertabrakan atau senarnya saling melilit dengan layangan milik peserta lain.
"Karena berbahan plastik. Lebih ringan. Gerakan lebih liar," kata Dek Adi, salah seorang peserta asal Desa Tulikup, Gianyar, Minggu.
Dalam ajang tersebut, Adi mengikuti kategori layangan Bebean. Berbeda dengan layang-layang berjubah kain parasut, layangan plastik tidak membutuhkan banyak orang saat menerbangkannya.
Meski begitu, Adi harus mengulur senar hingga berjarak 150 meter dan mencari posisi terbaik untuk menerbangkan layang-layang tersebut. Adi dan dua temannya harus mengendalikan layangan Bebean tersebut agar tidak bertabrakan dengan layangan lain.
"Justru layangan plastik ini lebih asyik dan nggak butuh banyak orang," kata Adi.
Made Panji setali tiga uang. Peserta asal Desa Adat Sala, Bangli, itu harus berupaya ekstra mengendalikan layangan janggan buntut sepanjang 3 meter dan lebar 2,7 meter.
Dengan ukuran layangan selebar itu, Panji harus melawan embusan angin gunung. Dua rekannya juga harus tetap berlari agar layanga-layang tetap mengudara di tengah kondisi angin gunung yang tidak konsisten.
"Tadi sempat menukik tajam karena nggak dapat angin. Saat mendarat juga tidak ada yang menangkap. Jadi, langsung jatuh ke tanah. Tapi, seru walaupun didiskualifikasi," kata Panji.
Ketua Panitia Batur Kite Festival I Wayan Purna Wirama mengatakan festival tersebut menghadirkan tujuh kategori. Mulai dari layangan bebean, layangan belolong, layangan celepuk, layangan kuir atau janggan buntut, layangan belolong mini, dan sikep pengambun atau layangan burung dengan sayap terbuka.
"Jumlah pesertanya 200 layangan yang berpartisipasi. Mereka terbagi dalam tujuh kategori. Layangan ini berbahan plastik semua," kata Wirama.
Wirama mengatakan lomba layangan tradisional Bali berbahan plastik itu sengaja dipilih karena pertimbangan kondisi angin. Menurutnya, embusan angin di Gunung Batur tidak sekencang di Pantai Padanggalak atau Pantai Mertasari.
"Jadi, selain dapat menyalurkan hobi, juga jadi ajang senang-senang buat para pelayang," imbuhnya.
Wirama menuturkan tim juri akan menilai cara peserta menerbangkan, mempertahankan, hingga menurunkan layang-layang mereka. Adapun durasi maksimal layangan mengudara tidak boleh lebih dari 15 menit.
"Kalau 15 menit layangan masih belum turun, langsung didiskualifikasi. Aba-abanya, ada bendera warna kuning, hitam, dan merah," tutur Wirama.
Ini menjadi festival layang-layang plastik yang pertama kali digelar di Bangli. Pemilihan lokasi di area wisata itu juga dalam rangka memperingati 100 tahun Rarud Batur atau letusan Gunung Batur pada 1926.
(iws/iws)