Tumpukan sampah meluber hingga melewati dua bangunan hanggar di TPS3R Bumi Resik, Kelurahan Sempidi, Mengwi, Badung, Bali. Penumpukan sampah organik dan anorganik itu kabarnya sudah terjadi sejak Mei lalu karena belum tersedianya alat pemilahan dan pengolahan.
Akibatnya, sampah bercampur dari warga terus bertambah dan menumpuk. Masalah makin parah karena TPS3R yang dioperasikan pihak ketiga sejak April 2026 ini juga menampung sampah liar yang diduga diselundupkan dan dibuang di pinggir jalan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Operasional TPS3R pun sempat terhenti total setelah para pekerja mogok mengangkut dan mengolah sampah. Aksi mogok ini dilakukan karena gaji mereka belum dibayarkan sejak Mei. Kondisi tersebut membuat warga sekitar terganggu oleh bau menyengat.
"Kami warga di dekat TPS ini yang kena imbas. Kadang pas angin kencang ke arah pemukiman, baunya menyengat," ungkap salah seorang warga dekat TPS3R Sempidi, Selasa (21/7/2026).
Warga berharap pengelola TPS3R dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Badung mengambil langkah cepat. Sebab, pihak ketiga dinilai gagal mengatasi masalah operasional sampah TPS3R tersebut. Mereka juga mendesak pengelola menyelesaikan tunggakan gaji pekerja.
Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa langsung menginstruksikan untuk menurunkan armada kebersihan ke lokasi TPS3R Sempidi. Adi Arnawa juga meminta Desa Adat Sempidi segera menentukan sikap terkait keberlanjutan kerja sama dengan pihak ketiga dalam pengelolaan TPS3R di wilayah tersebut.
"Posisi sampah di TPST3R sekarang menumpuk karena memang sekian hari memang tidak pernah diambil langkah-langkah penanganan," kata Adi Arnawa di Badung, Selasa.
Adi Arnawa juga mendesak Desa Adat Sempidi untuk segera mengirimkan surat resmi mengenai status kerja sama tersebut. Menurutnya, keputusan formal dari pihak desa adat dibutuhkan agar pemerintah daerah dapat merancang langkah penanganan sampah secara permanen dan berkelanjutan.
"Agar tidak terjadi overlap terkait dengan penanganan sampah di Sempidi ini. Pastikan dulu apakah akan dilanjutkan atau memang akan di-cut, akan diselesaikan sampai segitu," imbuh Adi Arnawa.
(iws/iws)