Kebun Raya Bali di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan, kini memiliki 20.300 spesimen tanaman dari 3 ribu spesies. Beberapa spesies di antaranya berstatus terancam punah.
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Deputi (Sesdep) Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Djoko Nugroho, mengatakan spesies yang terancam punah disebabkan berbagai faktor, yakni telah berusia tua sehingga mati atau tumbang. Faktor lain adalah akibat perubahan iklim maupun serangan hama.
"Untuk menjaga keberlanjutan koleksi, pengelola terus melakukan pembibitan dan perbanyakan tanaman agar jumlah vegetasi tetap terjaga sesuai standar konservasi," ujar Djoko Nugroho, Rabu (15/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Spesies tanaman yang terancam punah di antaranya Cipadessa Baccifera atau pohon rantiti yang merupakan jenis tanaman perdu. Kemudian, Chisocheton Sp atau sejenis tanaman tropis dari suku mahoni-mahonian, dan Agathis Dammara atau pohon damar. "Pohon-pohon ini di habitat liarnya kini terancam punah sehingga upaya konservasi menjadi sangat penting," tegas Djoko.
Djoko mengungkapkan koleksi tumbuhan di Kebun Raya Bali berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Papua, Maluku, Sulawesi, Jawa hingga Sumatera.
Direktur Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah (DPKI) BRIN, Sasa Sofyan Munawar, menegaskan pelestarian lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab pengelola, tetapi juga seluruh masyarakat, termasuk para pengunjung.
"Kami berharap upaya konservasi dan edukasi cinta lingkungan tidak hanya menjadi milik BRIN, tetapi menjadi gerakan bersama masyarakat. Kebun raya bukan hanya tanggung jawab pengelola, melainkan seluruh pengunjung juga memiliki peran dalam menjaga kelestarian kawasan ini," ujar Sofyan.
Ke depan, BRIN juga akan memperkuat fungsi edukasi dan penelitian melalui penyempurnaan identitas koleksi ilmiah tumbuhan hidup. Setiap tanaman koleksi akan dilengkapi informasi yang lebih lengkap agar pengunjung dapat mengetahui asal-usul, karakteristik hingga nilai konservasinya.
"Informasi yang dapat diakses pengunjung diharapkan mampu menambah wawasan masyarakat mengenai kekayaan flora Nusantara," jelas Soyan.
(iws/iws)