Iran kembali menunjukkan dominasinya di Selat Hormuz. Meski telah mencapai kesepakatan damai dengan Amerika Serikat (AS), Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan seluruh kapal agar hanya melintasi jalur pelayaran yang ditetapkan Teheran dan mengancam akan menindak kapal yang keluar dari koridor resmi.
Mengutip laporan detikFinance, IRGC menegaskan seluruh rute pelayaran yang dibuat tanpa koordinasi dengan Iran tidak dapat diterima dan berbahaya. Peringatan itu muncul setelah sejumlah jalur pelayaran baru diumumkan di kawasan Selat Hormuz.
Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa Iran masih berupaya mempertahankan kendali strategis atas salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Kondisi ini juga menunjukkan ketidakpastian yang masih membayangi industri pelayaran global meski konflik Iran dan AS telah mereda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IRGC menegaskan hanya jalur pelayaran yang ditentukan Iran yang boleh digunakan. Selain itu, setiap kapal diwajibkan berkoordinasi dengan otoritas Iran melalui saluran komunikasi yang tersedia.
"Berlayar di luar rute-rute ini sangat berbahaya dan dilarang, dan kami memperingatkan semua kapal untuk benar-benar menghindari pergerakan apa pun di luar koridor yang telah ditentukan," kata Angkatan Laut IRGC, dikutip dari CNBC, Kamis (25/6/2026).
Muncul Jalur Alternatif
Peringatan tersebut muncul setelah kelompok informasi angkatan laut utama mengusulkan koridor pelayaran alternatif pada Sabtu (20/6). Dalam pemberitahuannya, pemilik kapal disarankan melintasi selat melalui rute selatan dengan tetap mengaktifkan sinyal transponder.
"Rute transit selatan, di sepanjang perairan teritorial Oman, telah dipastikan bebas ranjau dan merupakan rute yang direkomendasikan," bunyi pemberitahuan tersebut.
Baca juga: Ini Hasil Negosiasi AS-Iran di Swiss |
Di tengah ketegangan itu, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai menunjukkan pemulihan. Data pelacakan kapal MarineTraffic mencatat jumlah kapal yang melintas meningkat tiga kali lipat menjadi 93 armada hingga akhir pekan lalu.
Meski demikian, angka tersebut masih berada di bawah kondisi sebelum perang ketika lebih dari 100 kapal melintasi selat setiap hari. MarineTraffic juga mengonfirmasi 31 penyeberangan terverifikasi pada Selasa oleh kapal komersial dan kapal pengangkut energi.
Para pemilik kapal masih menggunakan kombinasi rute Iran, Oman, dan Organisasi Maritim Internasional saat melintasi kawasan tersebut.
"Operator masih bergerak dengan hati-hati daripada kembali ke pola lalu lintas yang sepenuhnya normal," kata perusahaan itu pada Kamis.
AS Soroti Kendali Iran
Sebelumnya, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap Otoritas Selat Teluk Persia Iran pada Mei lalu. Sanksi itu diberikan karena adanya indikasi praktik pemerasan terhadap aktivitas perdagangan maritim global.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan Washington tidak akan mentoleransi sistem pengenaan tol apa pun di Selat Hormuz. AS juga akan secara agresif menargetkan pihak yang terlibat.
Para analis juga telah memperingatkan bahwa kendali Iran atas Selat Hormuz berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap arus perdagangan energi dunia. Transit kapal dinilai tidak akan sepenuhnya kembali normal apabila Teheran tetap mempertahankan pengaruh operasionalnya di jalur tersebut.
"Jika konflik berakhir dan Iran tetap memegang kendali operasional dan pengaruh atas Selat Hormuz, menurut pandangan kami, akan terjadi penurunan arus yang signifikan melalui jalur air tersebut," kata Kepala Strategi Komoditas RBC Capital Markets, Helima Croft.
Artikel ini telah tayang di detikFinance. Baca selengkapnya di sini!
(dpw/dpw)