Pemerintah Amerika Serikat (AS) dilaporkan menjalin komunikasi dengan sejumlah tokoh oposisi Israel. Langkah ini menyusul semakin meningkatnya perselisihan antara Washington dan Tel Aviv.
Mengutip Channel 12 Israel seperti dilansir Middle East Monitor, Senin (22/6/2026), para pejabat di lingkaran Presiden Donald Trump disebut menilai ada kemungkinan perubahan dalam pemerintahan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu. Kondisi ini disebut mendorong AS membuka kontak informal dengan para pemimpin oposisi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah tokoh oposisi yang dikabarkan terlibat komunikasi dengan Washington di antaranya Naftali Bennett, mantan perdana menteri Israel yang kini memimpin Partai Together, serta Gadi Eisenkot, Ketua Partai Yashar.
"Pemerintahan AS telah menyatakan keprihatinan tentang kelompok garis keras dalam pemerintahan Netanyahu dan berupaya membangun basis dukungan populer baru sebelum pemilu," demikian dilaporkan Channel 12 pada Minggu (21/6) waktu setempat.
Menurut laporan Channel 12, oposisi Israel telah berupaya membangun hubungan dengan pemerintahan Trump dalam beberapa bulan terakhir, dan telah mencapai "kesuksesan terbatas dengan para pejabat yang kritis terhadap kebijakan Netanyahu".
"Langkah Amerika bertujuan untuk memanfaatkan peluang politik mengingat krisis kepercayaan dengan pemerintah Israel saat ini," sebut Channel 12 dalam laporannya.
Channel 12 melaporkan bahwa AS melihat perlunya membangun "mekanisme kepercayaan informal baru" dengan Israel, meskipun Trump sendiri belum memberikan dukungan kepada politisi-politisi Israel lainnya.
Jajak pendapat yang dipublikasikan surat kabar Israel, Maariv, pada Jumat (19/6) waktu setempat menunjukkan bahwa oposisi Israel dapat membentuk pemerintahan baru jika pemilu digelar hari ini, dengan diprediksi memenangkan 61 kursi dalam parlemen Knsesset melawan 49 kursi milik koalisi Netanyahu.
Jajak pendapat itu juga memprediksi bahwa partai-partai Arab di Israel akan memenangkan 10 kursi dalam pemilu mendatang, yang dijadwalkan pada Oktober tahun ini.
Sejauh ini belum ada tanggapan langsung dari AS maupun Israel terkait laporan tersebut.
Laporan ini muncul saat AS dan Iran melakukan negosiasi lanjutan di Swiss, dengan mediasi Pakistan, untuk secara permanen mengakhiri perang yang dipicu serangan gabungan AS-Israel terhadap Teheran pada akhir Februari lalu.
Kesepakatan sementara yang diteken Washington dan Teheran menyerukan penghentian pertempuran di semua front, termasuk Lebanon. Namun pemerintah Israel menolak mentah-mentah seruan itu dan menegaskan mereka tidak terikat oleh kesepakatan AS-Iran.
Netanyahu telah menegaskan bahwa Israel tidak akan menarik pasukannya dari wilayah-wilayah yang diduduki di Lebanon bagian selatan.
Baca selengkapnya detikNews
(nor/nor)