Sejumlah delegasi dari Kamboja menyambangi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gianyar. Kedatangan mereka, dalam rangka belajar tata kelola sampah di Gianyar.
"Kami menerima studi kunjungan pengelolaan sampah dari delegasi Pemerintah Kamboja," kata Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun dalam keterangannya, Jumat (12/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mayun mengatakan berbagai kebijakan dan implementasi pengelolaan sampah yang telah diterapkan Pemkab Gianyar dipaparkan ke delegasi Kamboja. Menurutnya, Pemkab Gianyar tidak hanya berupaya mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat. Namun, juga kebersihan lingkungan yang berkelanjutan.
Di hadapan delegasi Kamboja, dipaparkan tentang strategi pengelolaan sampah berbasis sumber dan peran masyarakat dalam pengurangan sampah. "Serta sinergi antara pemerintah, desa adat, dan berbagai pemangku kepentingan dalam menjaga kelestarian lingkungan," kata Mayun.
Mayun mengatakan konsep pengelolaan sampah berbasis sumber adalah hal yang ditekankan dalam pembelajaran ke delegasi Kamboja. Dalam konsep itu, sampah sudah tertangani di tingkat masyarakat.
Sehingga, sampah yang tersisa, dapat dikategorikan sebagai residu. Itu adalah jenis sampah yang hanya dapat dimusnahkan atau diproses dengan infrastruktur khusus dan tidak lagi dapat diolah secara mandiri oleh masyarakat.
"Melalui pengurangan dan penanganan sampah berbasis sumber, setiap komponen dapat menjalankan peran dan kewajibannya sehingga volume sampah yang dibawa ke TPA Temesi dapat terus berkurang dan hanya menyisakan residu," katanya.
Mayun mengatakan, sampah jadi materi pembelajaran yang paling banyak dipaparkan, karena beberapa hal. Pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan aktivitas masyarakat, perubahan gaya hidup, serta pola konsumsi yang terus berkembang, jadi alasan materi soal sampah dikemukakan ke delegasi Kamboja.
Persoalan sampah jadi pelih pelik ketika ketersediaan lahan untuk membuang sampah semakin terbatas akibat pertumbuhan jumlah penduduk. Akhirnya, pembangunan infrastruktur seperti tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah menjadi sulit.
"Seiring meningkatnya jumlah dan aktivitas penduduk, perubahan gaya hidup, serta pola konsumsi masyarakat, timbulan sampah menjadi semakin banyak, baik jumlah maupun variasinya," katanya.
Secretary of State, Ministry of Interior, Yang Mulia Oum Mara mengatakan, tujuan utama kunjungan tersebut dilakukan guna mempelajari berbagai inovasi, program, dan pengalaman dalam pengelolaan sampah. Pendekatan yang melibatkan masyarakat secara langsung menjadi salah satu hal yang sangat menarik untuk dipelajari.
"Kami sangat tertarik melihat bagaimana masyarakat berperan aktif dalam mengelola sampah, termasuk penerapan teknologi rumah kompos yang telah berjalan dengan baik," kata Oum Mara.
Oum Mara mengatakan, kunjungan tersebut tidak akan menjadi pertama dan kali terakhir. Kamboja dan Gianyar akan terus membina hubungan melalui kunjungan berikutnya.
"Kami berharap kerja sama yang telah terjalin melalui kunjungan dapat terus berlanjut di masa mendatang melalui berbagai bentuk pertukaran pengetahuan dan pengalaman di bidang pengelolaan lingkungan," katanya.
(hsa/hsa)










































