Puasa Dzulhijjah menjadi salah satu amalan sunnah yang memiliki nilai sejarah dan spiritual yang kuat dalam Islam. Pasalnya, ibadah ini dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah yang dimuliakan Allah SWT sebagai waktu terbaik untuk berbuat kebaikan.
Ibadah ini juga tidak terlepas dari kisah keteladanan Nabi Ibrahim AS yang menunjukkan pengorbanan serta keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah, yang kemudian menjadi dasar lahirnya syariat qurban dalam Islam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut asal-usul lahirnya anjuran puasa Dzulhijjah yang perlu kita pahami. Yuk, simak pembahasan selengkapnya!
Asal-usul Anjuran Puasa Dzulhijjah
Asal-usul puasa Dzulhijjah tidak terdiri dari satu peristiwa tunggal, melainkan merupakan bagian dari rangkaian nilai keimanan dalam Islam.
Puasa Dzulhijjah menjadi salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan. Pasalnya, waktu ini dimaknai sebagai bulan penuh berkah yang memiliki kaitan erat dengan perintah Rasulullah SAW untuk memperbanyak amal shaleh pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Adapun amal saleh yang dimaksud mencakup berbagai ibadah, seperti salat, sedekah, dzikir, membaca Al-Qur'an, hingga puasa sunnah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA,
Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini (10 hari pertama Dzulhijjah)." (HR. Bukhari)
Oleh karena itu, puasa Dzulhijjah dipahami sebagai bagian dari amalan yang dilaksanakan untuk menghidupkan keutamaan hari-hari terbaik dalam Islam, yang penuh keberkahan dan kemuliaan.
Keteladanan Nabi Ibrahim AS sebagai Dasar Syariat
Awal mula anjuran puasa Dzulhijjah tidak terlepas dari kisah Nabi Ibrahim AS, sosok yang dikenal dengan ketakwaannya yang luar biasa kepada Allah SWT.
Dalam salah satu ujian terberatnya, beliau diperintahkan untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Namun, atas kehendak Allah SWT, peristiwa tersebut digantikan dengan seekor hewan sembelihan sebagai kurban. Dari kejadian inilah kemudian lahir syariat kurban yang diperingati setiap Idul Adha.
Dari kisah tersebut, nilai ketaatan, keikhlasan, dan pengorbanan Nabi Ibrahim AS menjadi ruh dari berbagai ibadah di bulan Dzulhijjah, seperti haji, puasa sunnah, hingga perayaan Idul Adha.
Pelaksanaan Puasa Dzulhijjah
Puasa Dzulhijjah dilaksanakan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, yaitu mulai tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah. Puasa ini termasuk ibadah sunnah yang sangat dianjurkan karena dilakukan pada waktu yang dimuliakan dalam Islam, dimana amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya.
Pada praktiknya, puasa ini dilaksanakan sebagaimana puasa sunnah pada umumnya, yaitu dengan niat sejak malam hari atau sebelum waktu subuh, kemudian menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Demikian ulasan mengenai asal-usul hingga pelaksanaan puasa Dzulhijjah yang berkaitan erat dengan kisah Nabi Ibrahim. Semoga informasinya bermanfaat ya, detikers!