Sebuah mesin pengolah sampah organik mini yang didemontrasikan Pemerintah Desa Banjarangkan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Bali. Mesin itu diklaim dapat mencegah penularan Hantavirus. Hal itu disampaikan Dewan Pembina SAS foundation I Gusti Ngurah Putra Eka Santosa saat menjelaskan pengolahan sampah berbasis desentralisasi dengan mesin pirolisis mini di Desa Banjarangkan, Kamis (14/5/2026).
"Jadi gini korelasinya. Sampah yang berjibun dan tidak ditangani itu akan menjadi rumah tikus. Seperti kita ketahui, tikus sebagai pembawa virus Hanta. Upaya desentralisasi dan sentralisasi itu penting. Sehingga sampah tertangani, tikus tidak lagi bersarang, dan virus Hanta dapat dicegah," terang Eka yang juga merupakan pengajar di Fakultas Kedokteran Unmas Denpasar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemkab Klungkung sendiri dikatakan akan mencanangkan layanan sel punca (stem cell). Di mana hal tersebut menjadi bagian dari upaya mengantisipasi penanganan penyebaran Hantavirus di Klungkung, khususnya di Nusa Penida.
"Jadi kita akan memiliki terapi berbasis peningkatan imum melalui Stem Cell. Jadi orang kan banyak menghindari vaksin. Dengan adanya ini, warga di Klungkung tidak perlu khawatir lagi," terangnya.
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) I Dewa Komang Aswin menyambut baik teknologi pengolahan sampah organik pirolisis mini. Mesin pengolah sampah khusus organik yang dibawa SAS Foundation dinilai sangat layak digunakan oleh tempat pengolahan sampah yang ada di desa-desa.
Selain memecahkan masalah tumpukan sampah organik dan ancaman potensi munculnya hantavirus melalui tikus, pirolisis mini juga dikatakan memiliki peluang ekonomi. Di mana canang dan banten juga sampah organik dari daun kelapa akan dikeringkan menjadi briket atau arang.
"Kami sendiri menyarankan desa-desa untuk melihat peluang penggunaan alat ini menjadi ladang binis. Jadi hasil pengeringannya menjadi arang untuk diekspor ke Eropa," kata Aswin.
(hsa/hsa)










































