Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons terkait nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang tembus level Rp 17.400 pada perdagangan Selasa (5/5). Sejumlah pihak menilai rupiah melemah akibat kondisi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang goyah.
Dilansir dari detikFinance, Purbaya mengungkapkan ada pihak-pihak yang mengaitkan pelemahan nilai tukar rupiah dengan kondisi fiskal negara. Namun, ia enggan berkomentar lebih jauh mengenai urusan moneter. Menurutnya, pertanyaan itu seharusnya ditujukan kepada Bank Indonesia (BI).
"Orang juga banyak bilang, Indonesia fiskalnya goyah, maka rupiahnya lemah-lemah dan lain-lain. Kalau rupiah, nantinya BI aja yang jawab. Jangan tanya saya. Mereka yang berhak jawab," ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTa di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa.
Purbaya justru memamerkan data ketahanan energi Indonesia dalam menghadapi guncangan global. Menurut dia, ketahanan energi Indonesia saat ini berada di atas negara-negara adidaya dan negara eksportir komoditas besar lainnya.
"Tapi kalau kita lihat dari ketahanan energi, kita itu amat kuat. Itu nomor dua tuh. Kalau ada krisis global, kita nomor dua paling kuat dibanding negara-negara lain, bahkan di atas Amerika, di atas Cina, di atas Australia," imbuh Purbaya.
Simak Video "Video Menkeu Purbaya Kunjungi Korban Gempa NTT, Beri 1 Truk Sembako"
(iws/iws)