detikBali

Mantan Putra Mahkota Iran Diserang di Jerman, Begini Kondisinya

Terpopuler Koleksi Pilihan

Mantan Putra Mahkota Iran Diserang di Jerman, Begini Kondisinya


Tim detikNews - detikBali

Reza Pahlavi, the exiled son of Irans last shah and an Iranian opposition figure, stained with red substance, leaves after a press conference at the House of the Bundespressekonferenz in Berlin, Germany, April 23, 2026. REUTERS/Liesa Johannssen
Reza Pahlavi diserang cairan merah di Jerman. (Foto: REUTERS/Liesa Johannssen)
Denpasar -

Mantan putra mahkota Iran, Reza Pahlavi, diserang dengan siraman cairan merah saat menyapa pendukungnya di Berlin, Jerman. Insiden itu terjadi di tengah aksi unjuk rasa yang juga menentang kehadirannya.

Peristiwa tersebut terjadi ketika Pahlavi yang mengenakan setelan jas berjalan di trotoar bersama tim keamanannya usai menggelar konferensi pers di Gedung Bundespressekonferenz, pusat pertemuan pers di Berlin, Kamis (23/4).

Dalam video yang beredar, seorang pria beransel yang berjalan di belakang Pahlavi tiba-tiba melemparkan cairan merah ke arahnya. Cairan yang diduga saus tomat itu mengenai bagian belakang kepala, leher, dan jas yang dikenakan Pahlavi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski diserang, pria berusia 65 tahun itu tampak tidak terpengaruh. Dia tetap melambaikan tangan kepada para pendukungnya di lokasi.

ADVERTISEMENT

Petugas keamanan dengan cepat mengamankan pelaku penyerangan. Namun, identitas pelaku belum diungkap ke publik, dan motif aksinya masih belum diketahui.

Seruan Intervensi Barat

Dalam konferensi pers di Jerman, Pahlavi yang merupakan putra Shah terakhir Iran dan kini menjadi tokoh oposisi, menyerukan negara-negara Barat untuk bergabung dalam perang yang dikobarkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Dia juga mengkritik pemerintah Jerman yang tidak menjadwalkan pertemuan dengannya selama kunjungan ke Berlin.

Pahlavi, yang ayahnya digulingkan dalam Revolusi Iran 1979 yang membawa Ayatollah Ruhollah Khomeini ke tampuk kekuasaan, menuduh Eropa berdiam diri terhadap penindasan berdarah di Iran.

"Pertanyaannya bukanlah apakah perubahan akan datang. Perubahan sedang dalam perjalanan," cetus Pahlavi dalam konferensi pers di Berlin, dilansir dari detikNews, Sabtu (25/4/2026).

"Pertanyaan sebenarnya adalah berapa banyak warga Iran yang akan kehilangan nyawa, sementara komunitas demokrasi Barat hanya terus menonton," ucapnya.

Pahlavi berupaya kembali berkuasa jika rezim teokrasi Syiah Iran runtuh. Dia juga menyatakan dukungan terhadap intervensi militer AS-Israel di Timur Tengah dan berupaya memposisikan diri dalam masa depan politik Iran.

Namanya mencuat sebagai calon pemimpin oposisi setelah gelombang unjuk rasa antipemerintah meluas di Iran tahun lalu. Namun, belum diketahui secara pasti seberapa besar dukungan yang dimilikinya di dalam negeri, terutama setelah hampir 50 tahun hidup di pengasingan.




(dpw/dpw)










Hide Ads