detikBali
Hari Kartini

Disesaki Dua Kali Lipat, Warga Binaan Lapas Kerobokan Tetap Berkarya

Terpopuler Koleksi Pilihan
Hari Kartini

Disesaki Dua Kali Lipat, Warga Binaan Lapas Kerobokan Tetap Berkarya


Wibhi Leksono - detikBali

Hari Kartini di Lapas Kerobokan, Bali, Selasa (21/4/2926).
Hari Kartini di Lapas Kerobokan, Bali, Selasa (21/4/2926). (Foto: Wibhi Leksono/detikBali)
Denpasar -

Di tengah kondisi overkapasitas yang hampir dua kali lipat, warga binaan Lapas Perempuan Kelas IIA Kerobokan tetap menunjukkan semangat berkarya saat merayakan Hari Kartini. Lewat berbagai karya dan penampilan, mereka membuktikan keterbatasan ruang tak menghalangi produktivitas.

Saat dikunjungi jajaran Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) serta Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan (Puspa) Bali, para warga binaan menampilkan beragam keterampilan. Mulai dari tata rias, kerajinan tas, aneka makanan, lukisan, hingga fashion show.

"Warga binaan pemasyarakatan di Lapas Perempuan Kerobokan ini sangat antusias dengan adanya kegiatan Hari Kartini ini, termasuk warga negara asing yang ada di dalam," ujar Kepala Lapas Perempuan Kerobokan, Ni Luh Putu Andiyani, Selasa (21/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kegiatan ini dibuka Kepala Dinsos P3A Provinsi Bali Anak Agung Sagung Mas Dwipayani, didampingi Ketua Forum Puspa Provinsi Bali Ny Seniasih Giri Prasta, serta delegasi peserta World Congress on Probation and Parole dari Belanda.

ADVERTISEMENT

Andiyani mengatakan, kegiatan ini menjadi kali pertama Lapas Perempuan Kerobokan menggelar pameran karya warga binaan yang dirangkai dengan pelatihan keterampilan, seperti tata rias wajah dan seni sanggul. Selain itu, juga digelar sosialisasi peningkatan partisipasi perempuan di bidang sosial, ekonomi, politik, dan hukum.

Antusiasme terlihat dari berbagai penampilan, mulai dari tarian hingga peragaan busana yang menampilkan hasil karya sendiri, seperti tas, shawl, dan rajutan. Karya-karya tersebut menjadi bukti kreativitas tetap tumbuh meski berada di balik jeruji.

Menurut Andiyani, setiap pelatihan yang diberikan tidak bersifat sementara. Warga binaan juga mendapatkan sertifikat keterampilan sebagai bekal saat kembali ke masyarakat.

Hari Kartini di Lapas Kerobokan, Bali, Selasa (21/4/2926).Kelas kecantikan dalam perayaan Hari Kartini di Lapas Kerobokan, Bali, Selasa (21/4/2926). Foto: Wibhi Leksono/detikBali

"Setiap pelatihan ada sertifikat yang disimpan di file masing-masing. Saat mereka bebas, sertifikat dan peralatan akan diberikan sebagai bekal," jelasnya.

Selain pelatihan salon, berbagai program pemberdayaan terus dikembangkan di dalam lapas, seperti pembuatan keripik tempe, kue, kerajinan tangan, hingga kegiatan pertanian dan peternakan, seperti budidaya ayam, lele, melon, dan anggur.

Hasil karya warga binaan bahkan telah menembus pasar luar daerah. Produk mereka pernah digunakan sebagai suvenir dalam kegiatan internasional dan kerap dipamerkan dalam berbagai event tingkat kabupaten hingga provinsi Bali.

Saat ini, jumlah warga binaan di Lapas Perempuan Kerobokan mencapai 258 orang, termasuk lima bayi, jauh melebihi kapasitas ideal sebanyak 120 orang. Dari jumlah tersebut, terdapat 12 warga negara asing yang juga menjalani pembinaan.

Di tengah kondisi tersebut, program pemberdayaan menjadi ruang penting untuk membangun kembali kepercayaan diri warga binaan.

Salah satunya dirasakan oleh Kasarin Khamkao yang telah menjalani tujuh tahun dari vonis 16 tahun dalam kasus narkotika.

"Ini pertama kali saya ikut pelatihan seperti ini. Saya ingin berubah dan tidak mengulangi kesalahan yang sama," ujarnya.

Petugas lapas berharap para warga binaan dapat kembali ke masyarakat dengan lebih siap.

"Kami terharu melihat para wanita di sini begitu kuat menjalani masa ujian. Semoga mereka bisa segera pulang, berkumpul dengan keluarga, dan tidak minder saat kembali ke masyarakat," ujar Ketua Forum Puspa Provinsi Bali Ny Seniasih Giri Prasta.

Peringatan Hari Kartini di Lapas Kerobokan menjadi pengingat bahwa pemberdayaan perempuan tidak mengenal batas ruang. Di balik jeruji, para perempuan terus belajar, berkarya, dan menyalakan harapan untuk masa depan yang lebih baik.




(dpw/dpw)










Hide Ads