detikBali

Kapal Iran Ditembak AS, Teheran Mundur dari Meja Perundingan Kedua

Terpopuler Koleksi Pilihan

Kapal Iran Ditembak AS, Teheran Mundur dari Meja Perundingan Kedua


Rolando Fransiscus Sihombing - detikBali

Bendera Iran
Foto: Middle East Monitor
Denpasar -

Iran menolak melanjutkan pembicaraan dengan Amerika Serikat (AS) di tengah eskalasi militer yang kian terbuka. Keputusan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kapal perang negaranya menembak kapal Iran yang mencoba menembus blokade.

Dilansir dari detikNews, Senin (20/4/2026), blokade AS terhadap pelabuhan Iran menjadi sumber utama ketegangan yang terus meningkat. Situasi semakin rumit setelah Trump pada Minggu (19/4) menyatakan kapal perusak AS menargetkan kapal Iran di laut.

Stasiun penyiaran pemerintah IRIB pada Minggu (19/4) mengutip sumber-sumber Iran yang menyebut saat ini tidak ada rencana untuk berpartisipasi dalam putaran pembicaraan Iran-AS berikutnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kantor berita Fars dan Tasnim sebelumnya juga mengutip sumber anonim yang mengatakan suasana keseluruhan tidak dapat dinilai sangat positif, seraya menegaskan pencabutan blokade AS menjadi prasyarat utama negosiasi.

ADVERTISEMENT

IRNA yang dikelola pemerintah Iran menyoroti blokade tersebut serta tuntutan yang tidak masuk akal dan tidak realistis dari Washington. Mereka menilai dalam keadaan ini, tidak ada prospek yang jelas untuk negosiasi yang bermanfaat.

Gencatan Senjata di Ujung Waktu

Iran dan AS, bersama Israel, kini hanya memiliki tiga hari sebelum gencatan senjata dua minggu berakhir. Gencatan itu menghentikan sementara perang Timur Tengah yang dipicu serangan mendadak AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Sejauh ini, baru satu sesi negosiasi yang digelar selama 21 jam di Islamabad pada 11 April. Pertemuan itu berakhir tanpa kesimpulan, meski persiapan pembicaraan lanjutan sempat dilakukan.

"Kami menawarkan kesepakatan yang sangat adil dan masuk akal, dan saya harap mereka menerimanya," kata Trump dalam unggahan pada Minggu (19/4), sembari kembali mengancam infrastruktur Iran jika kesepakatan gagal dicapai.

Selat Hormuz Jadi Titik Panas

Tekanan terhadap Trump meningkat sejak Teheran menutup Selat Hormuz di awal konflik. Jalur vital ini menjadi lintasan seperlima distribusi minyak dan gas alam cair dunia pada masa damai, sehingga penutupannya mengguncang ekonomi global dan pasar energi.

Setelah upaya membuka kembali selat itu gagal, AS merespons dengan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran guna memutus pendapatan minyak Teheran.

Pada Minggu (19/4), Trump mengungkapkan sebuah kapal kargo berbendera Iran berusaha melewati blokade angkatan laut kami, dan itu tidak berjalan baik bagi mereka.

Ia menyebut kapal perusak AS telah memperingatkan kapal tersebut untuk berhenti, lalu memaksanya berhenti dengan membuat lubang di ruang mesin. "Saat ini, marinir AS telah mengamankan kapal tersebut," tambahnya.

Trump juga mengatakan kapal berbendera Iran, Touska, berada di bawah sanksi Departemen Keuangan AS karena riwayat aktivitas ilegal sebelumnya.

Ancaman Terbuka dari Iran

Iran sempat membuka kembali Selat Hormuz pada Jumat (17/4) sebagai bagian dari pengakuan atas gencatan senjata Israel-Hezbollah di Lebanon. Namun, selat itu kembali ditutup sehari kemudian sebagai respons atas blokade AS.

Garda Revolusi Iran memperingatkan setiap upaya melintasi selat tanpa izin akan dianggap sebagai kerja sama dengan musuh, dan kapal yang melanggar akan menjadi sasaran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, pada Minggu (19/4) menilai blokade tersebut sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata sekaligus hukuman kolektif ilegal terhadap rakyat Iran.

Data pelacakan menunjukkan hanya sedikit kapal tanker minyak dan gas yang sempat melintasi selat pada Sabtu (18/4) pagi saat pembukaan singkat. Namun pada Minggu (19/4) pagi, jalur tersebut kembali kosong.

Sehari sebelumnya, tiga insiden berupa tembakan dan ancaman terhadap kapal komersial menunjukkan tingginya risiko bagi pelayaran di kawasan tersebut.



(dpw/dpw)











Hide Ads