detikBali

Beban Berat Petugas Kebersihan Pilah 50 Ton Sampah di TPST Mengwitani

Terpopuler Koleksi Pilihan

Beban Berat Petugas Kebersihan Pilah 50 Ton Sampah di TPST Mengwitani


Agus Eka Purna Negara - detikBali

Petugas kebersihan jalan yang membantu proses pemilahan sampah liar di TPST Mengwitani, Badung.
Foto: Petugas kebersihan jalan yang membantu proses pemilahan sampah liar di TPST Mengwitani, Badung. (Dok. Pemkab Badung)
Badung -

Kondisi di TPST Mengwitani, Badung saat ini sangat krusial dengan volume sampah liar yang masuk mencapai rata-rata 40 hingga 50 ton per hari dalam keadaan belum terpilah. Gunungan sampah yang didominasi limbah dari kawasan pariwisata tersebut harus segera dipilah secara manual oleh ratusan petugas kebersihan jalanan agar mesin pengolah seperti mesin gibrik dan pencacah bekerja maksimal dan cepat agar tidak terjadi overload.

Namun, aktivitas pemilahan intensif di tengah tumpukan sampah yang mulai membusuk ini memicu ancaman kesehatan serius, mulai dari gangguan saluran pernapasan akibat polusi udara yang menyengat hingga risiko infeksi tetanus bagi para pekerja lapangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Badung pun menyiagakan tenaga medis guna menjamin kesehatan dan keselamatan para petugas kebersihan yang memilah sampah di TPST Mengwitani. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Badung, Bagus Padma Puspita menegaskan saat ini para pekerja berasa pada kondisi sangat rentan terpapar penyakit dan risiko kecelakaan kerja di tumpukan sampah.

"Kami harus dukung stamina dan fisik mereka karena rentan kena penyakit di sini, bahkan kemarin ada yang jatuh sampai kakinya dijahit. Kami berikan obat, vitamin, hingga suntikan untuk menjaga stamina mereka agar tidak drop," kata Bagus Padma Puspita, Minggu (19/4/2026).

ADVERTISEMENT

Pemberian layanan kesehatan ini melibatkan tim dokter dan perawat Dinkes Badung yang disiagakan bergantian di lokasi pengolahan sampah. Selain pemeriksaan rutin, petugas juga mengantisipasi ancaman infeksi serius seperti tetanus yang bisa berakibat fatal bagi pekerja lapangan.

"Kami juga siagakan ambulans jika terjadi kegawatdaruratan. Bapak-Ibu di sini risikonya besar, kalau kena paku, itu bisa tetanus dan ancamannya bisa kematian kalau tidak ditangani cepat," jelas Bagus.

Sebanyak 900 petugas kebersihan setiap harinya harus memilah sekitar 40 sampai 50 ton sampah liar yang datang dari kawasan pariwisata dalam kondisi tercampur. Dia menilai beban fisik petugas yang diperbantukan itu berat karena kerja sejak subuh.

"Bisa dibayangkan bekerja berjam-jam berdiri memilah sampah itu lutut pasti pegal semua, apalagi polusi udaranya bikin sesak meski tidak merokok. Kami standby setiap hari dengan bantuan beberapa Puskesmas agar kalau ada yang sakit bisa langsung ditangani," tambahnya.

Dinkes Badung, tegas Bagus Padma, juga sudah mendistribusikan ribuan paket vitamin dan menyiapkan aplikasi khusus untuk merespons kondisi darurat di area kerja. Pihaknya siap mengamankan aspek kesehatan seluruh pasukan semut ini agar tidak terjadi gangguan kesehatan massal akibat lingkungan kerja yang ekstrem.




(hsa/hsa)










Hide Ads