detikBali

Menteri P2MI Dorong Eks Pekerja Migran Kembangkan Usaha di Dalam Negeri

Terpopuler Koleksi Pilihan

Menteri P2MI Dorong Eks Pekerja Migran Kembangkan Usaha di Dalam Negeri


Ahmad Firizqi Irwan - detikBali

Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin saat mengunjungi gerai Namaste 21 di Padang Galak, Denpasar, Bali, Kamis (2/4/2026). (Foto: Ahmad Firizqi Irwan/detikBali)
Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin saat mengunjungi gerai Namaste 21 di Padang Galak, Denpasar, Bali, Kamis (2/4/2026). (Foto: Ahmad Firizqi Irwan/detikBali)
Denpasar -

Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin mendorong para mantan pekerja migran Indonesia (PMI) untuk membangun dan mengembangkan usaha ketika pulang ke dalam negeri. Mukhtarudin berharap tidak ada eks PMI yang menjadi pengangguran.

"Mereka jangan jadi pengangguran. Mereka harus sudah bisa berkembang diri sendiri, sudah ada ilmu, pengalaman, jejaring, network, ada modal," ujar Mukhtarudin saat ditemui di Denpasar, Bali, Kamis (2/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mukhtarudin memastikan para pekerja migran yang telah habis kontrak kerjanya di luar negeri dan kembali ke Indonesia akan mendapatkan pelatihan kewirausahaan. Menurutnya, pelatihan tersebut disiapkan bagi purna PMI yang sesuai prosedural.

"Jadi purna-purna migran yang mau ikut pelatihan, kami latih," imbuhnya.

ADVERTISEMENT

Dalam kesempatan itu, Mukhtarudin juga mengunjungi gerai Namaste 21 di kawasan Padang Galak, Denpasar. Usaha kerajinan tradisional tersebut dirintis oleh mantan PMI bernama Novita Wesley Simanjuntak. Mukhtarudin pun mengapresiasi usaha yang dikembangkan oleh Novita.

"Ini salah satu perajin tradisional kita. Saya tertarik datang ke sini karena ibu ini dulunya pekerja migran di Kuwait selama sembilan tahun sebagai perawat," ujar Mukhtarudin.

Mukhtarudin menyebut Novita menjadi salah satu dari sekian PMI yang berhasil mengembangkan bisnis hingga menjual produknya ke pasar internasional. Menurutnya, pemerintah turut memberi pelatihan hingga izin usaha sehingga Novita bisa mengembangkan bisnis tersebut.

"Dulu dia bekerja sama orang, sekarang dia mempekerjakan orang (memiliki karyawan). Walaupun tidak banyak, cuma enam orang, insyaallah usahanya bisa berkembang," imbuhnya.

Sementara itu, Novita mengakui peran pemerintah dalam memberi pendampingan dalam membuka usahanya. Setelah berhenti menjadi pekerja migran, Novita bertekad untuk membangun usaha secara mandiri hingga bisa membuka lapangan kerja.

"Kami harus bisa menghasilkan di dalam, bahkan kami bisa menjadi berkah bagi saudara-saudara kita," ujar Novita.

Tidak mudah bagi Novita saat merintis usaha tersebut dari nol. Meski begitu, ia akhirnya belajar tentang banyak hal dari proses tersebut. Termasuk mengenai proses produksi, manajemen keuangan, hingga pemasaran.



(iws/iws)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads