detikBali

Trump Ancam Ambil Alih Kuba, Diaz-Canel Siap Melawan

Terpopuler Koleksi Pilihan

Trump Ancam Ambil Alih Kuba, Diaz-Canel Siap Melawan


Rolando Fransiscus Sihombing - detikBali

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel (kiri) selama sesi pleno kedua KTT BRICS di Rio de Janeiro, Brasil, pada 6 Juli 2025; dan Presiden AS Donald Trump selama pertemuan dengan para eksekutif perusahaan minyak AS di Ruang Timur Gedung Putih, Washington DC, pada 9 Januari 2026.
Miguel Diaz-Canel dan Donald Trump. (Foto: AFP/SAUL LOEB)
Denpasar -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan ancaman keras akan mengambil alih Kuba saat negara itu terpuruk dalam krisis listrik akibat blokade minyak Washington. Pernyataan tersebut langsung dibalas tegas oleh pemerintah Kuba yang memperingatkan akan memberikan perlawanan tak tergoyahkan.

Dilansir dari detikNews, Rabu (18/3/2026), tekanan terhadap Kuba kian meningkat setelah Washington memperketat blokade minyak dan secara terbuka menyatakan ingin mengakhiri kebuntuan yang telah berlangsung hampir tujuh dekade dengan negara komunis satu partai tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menlu AS Marco Rubio menilai langkah Kuba yang baru saja mengizinkan eksil berinvestasi dan memiliki bisnis belum cukup untuk mendorong reformasi pasar bebas seperti yang diinginkan pemerintahan Trump.

"Apa yang mereka umumkan kemarin tidak cukup dramatis. Itu tidak akan memperbaikinya. Jadi mereka harus membuat beberapa keputusan besar," kata Rubio, seorang Kuba-Amerika dan kritikus vokal partai penguasa negara itu, kepada wartawan di Gedung Putih.

ADVERTISEMENT

Presiden Donald Trump, yang terus meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan komunis Kuba, pada Senin (16/3) menyatakan akan "mengambil alih" negara tersebut. Ia juga menambahkan: "Kita akan melakukan sesuatu dengan Kuba segera," tegas Trump.

Namun, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel merespons dengan nada menantang terhadap ancaman Washington. "Menghadapi skenario terburuk, Kuba memiliki satu jaminan: setiap agresor eksternal akan menghadapi perlawanan yang tak tergoyahkan," tulisnya dalam sebuah pernyataan di X.

Kuba menyatakan terbuka untuk pembicaraan luas dengan Washington dan mengizinkan lebih banyak investasi, tetapi menegaskan tidak akan membahas perubahan sistem politiknya, kata seorang utusan.

Tanieris Dieguez, wakil kepala misi Kuba di Washington, mengatakan kedua negara memiliki banyak hal untuk dibahas, namun tidak satu pun boleh meminta pihak lain mengubah sistem pemerintahannya.

"Tidak ada yang berkaitan dengan sistem politik kita, tidak ada yang berkaitan dengan model politik kita--model konstitusional kita--yang menjadi bagian dari negosiasi, dan tidak akan pernah menjadi bagian dari itu," katanya.

"Satu-satunya hal yang diminta Kuba dalam setiap percakapan adalah penghormatan terhadap kedaulatan kami dan hak kami untuk menentukan nasib sendiri."

The New York Times, mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, melaporkan pemerintahan Trump telah menyerukan agar Kuba memecat Diaz-Canel yang dinilai resisten terhadap perubahan.

Rubio membantah laporan tersebut. Ia menulis di X bahwa artikel itu "palsu" dan termasuk laporan media yang mengandalkan "penipu dan pembohong yang mengaku tahu" sebagai sumber.

Pemadaman Listrik dan Tekanan Ekonomi

Pemadaman listrik total pada Senin (16/3) menyoroti kondisi ekonomi Kuba yang kian genting. Negara itu kehilangan Venezuela sebagai sekutu utama sekaligus pemasok minyak sejak Januari lalu setelah operasi militer AS menggulingkan pemimpin sosialis Venezuela, Nicolas Maduro.

Sistem pembangkit listrik Kuba yang telah menua berada dalam kondisi buruk. Pemadaman listrik harian hingga 20 jam menjadi hal biasa di sejumlah wilayah akibat kekurangan bahan bakar untuk pembangkit listrik.

Sejak penggulingan Maduro pada 3 Januari, kondisi ekonomi Kuba semakin terpukul oleh blokade minyak AS secara de facto.

Tidak ada impor minyak ke Kuba sejak 9 Januari. Dampaknya meluas ke sektor energi dan memaksa maskapai penerbangan mengurangi jadwal penerbangan ke pulau tersebut, menjadi pukulan bagi sektor pariwisata yang vital.

Di tengah tekanan tersebut, Trump secara terbuka menyatakan keinginannya agar pemerintahan Kuba jatuh.

"Anda tahu, sepanjang hidup saya, saya telah mendengar tentang Amerika Serikat dan Kuba. Kapan Amerika Serikat akan melakukannya?" kata Trump kepada wartawan pada Senin (16/3).

"Saya percaya saya akan mendapat kehormatan untuk mengambil alih Kuba," kata Trump.

"Apakah saya membebaskannya, mengambilnya--saya pikir saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan dengannya, Anda ingin tahu yang sebenarnya. Mereka adalah negara yang sangat lemah saat ini," tandasnya.




(dpw/dpw)











Hide Ads