detikBali

Pemudik Pilih Jalan Kaki Berjam-berjam Tembus Hutan demi Sampai Gilimanuk

Terpopuler Koleksi Pilihan

Pemudik Pilih Jalan Kaki Berjam-berjam Tembus Hutan demi Sampai Gilimanuk


Sui Suadnyana, Adi Budiastrawan - detikBali

Sejumlah pemudik memilih berjalan kaki karena terjebak antrean kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, Selasa (17/3/2026). (I Putu Adi Budiastrawan/detikBali)
Foto: Sejumlah pemudik memilih berjalan kaki karena terjebak antrean kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, Selasa (17/3/2026). (I Putu Adi Budiastrawan/detikBali)
Jembrana -

Antrean horor yang melanda jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, membuat para pemudik putus asa. Tak sedikit dari mereka yang akhirnya memilih meninggalkan kendaraan dan berjalan kaki berjam-jam untuk menembus kemacetan, termasuk melewati kawasan Hutan Cekik.

Salah satunya adalah Pablo, pemudik dari Kelurahan Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Badung. Lelaki itu menceritakan perjuangannya mudik ke kampung halaman ke Batu, Jawa Timur (Jatim).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pablo awalnya berangkat menggunakan mobil pribadi bersama empat saudaranya, Senin (16/3/2026) pukul 20.00 Wita. Mereka sudah merasakan kepadatan lalu lintas menuju Pelabuhan Gilimanuk sejak memasuki Tabanan.

"Masuk wilayah Melaya kena macet itu jam 23.00 Wita," ungkap pria berusia 31 tahun itu saat ditemui detikBali, Selasa (17/3/2026).

ADVERTISEMENT

Pablo dan saudaranya, Candra (26), lantas mengambil keputusan nekat lantaran mobil tak kunjung bergerak dalam waktu lama. Mereka memilih turun dari mobil sebelum masuk wilayah hutan sekitar pukul 04.00 Wita dan berjalan kaki menuju Pelabuhan Gilimanuk, sementara dua saudara lainnya tetap bertahan di mobil.

"Saya jalan kaki itu dari jam 4 pagi sampai wilayah Hutan Cekik. Sesekali duduk ngopi karena banyak pedagang kopi dadakan di sepanjang jalur," tutur Pablo

Namun, Pablo akhirnya menyerah setelah berjalan kaki selama tiga jam dan memilih menggunakan jasa ojek yang banyak ditawarkan di pinggir jalan.

"Sampai jam 7 pagi itu ditawari ojek, padahal sudah jalan sekitar 3-4 kilometer. Ya sudah naik saja. Awalnya tarif Rp 100 ribu, saya nego dikasih Rp 50 ribu per orang. Jadi berdua bayar Rp 100 ribu," tambah Pablo.

Hingga Selasa siang pukul 13.00 Wita, mobil pribadi Pablo masih terjebak antrean di wilayah hutan, sementara dirinya sudah berada di sekitar Pelabuhan Gilimanuk.

Fenomena jalan kaki ini ternyata tidak hanya dilakukan oleh Pablo. Dirinya melihat banyak pemudik lain yang melakukan hal serupa. Bahkan, ada kisah pilu pemudik yang berjalan kaki hingga belasan kilometer karena kehabisan ongkos.

"Tadi ada yang ketinggalan bus, Mas. Jalan dari Sumbersari, Melaya. Jadi pemudik itu ketiduran di warung dan busnya sudah sampai pelabuhan. Karena kehabisan uang, dia jalan kaki sampai pelabuhan (sekitar 12 kilometer)," ungkap Pablo.

Kondisi serupa dialami Panji, pemudik asal Jember, Jatim, yang menggunakan jasa travel. Dirinya memilih turun dan berjalan kaki ke arah pelabuhan karena bosan terjebak antrean yang tidak bergerak.

"Capek, sudah sejam lebih saya jalan kaki ini. Masih saja hutan, belum sampai-sampai Gilimanuk," keluh Panji singkat sambil terus melangkah.

Pantauan di lokasi, ribuan kendaraan masih mengular panjang menuju pintu masuk Pelabuhan Gilimanuk. Cuaca panas dan durasi antrean yang mencapai belasan jam menjadi ujian berat bagi para pemudik tahun ini.



(hsa/hsa)









Hide Ads