detikBali

Imbas Perang Iran, PAD Gianyar Terancam dan Okupansi Hotel Melambat 2 Persen

Terpopuler Koleksi Pilihan

Imbas Perang Iran, PAD Gianyar Terancam dan Okupansi Hotel Melambat 2 Persen


Aryo Mahendro - detikBali

Kunjungan wisata ke Goa Gajah di Desa Bedulu, Gianyar selalu ramai oleh turis Eropa, Minggu (2/6/2024). (foto : Putu Krista / detikBali).
Turis melancong di Gianyar. Foto: Putu Krista/detikBali
Gianyar -

Pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Gianyar diprediksi menurun pada Mei 2026. Hal itu disebabkan pembatalan penerbangan dari luar negeri ke Bali yang mulai terjadi pada April 2026 imbas perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

"Pembatalan keberangkatan (turis asing) dari Eropa menuju Bali itu adanya bulan April 2026. Tapi akan berpengaruh, karena kalau April tidak datang (turis asingnya) pendapatan tidak ada," kata Bupati Gianyar I Made Agus Mahayastra seusai rapat paripurna di kantor DPRD Gianyar, Selasa (10/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mahayastra mengatakan meski diprediksi ada penurunan PAD di sektor wisata, situasinya tidak parah. Berbeda dengan situasi saat wabah COVID-19 melanda Bali enam tahun lalu.

Karenanya, belum ada rencana untuk melakukan relokasi atau refocusing anggaran program Pemerintah Kabupaten Gianyar. "Berbeda dengan jaman COVID-19, karena seluruh dunia lockdown," kata Mahayastra.

ADVERTISEMENT

Mahayastra menyebut kondisi PAD di Gianyar saat ini masih stabil. Masih ada peningkatan PAD sejak Januari 2026 hingga kini.

PAD dari pajak hotel dan restoran saja, ada peningkatan sebesar Rp 2 miliar. Dari Rp 102 miliar pada Januari 2025, meningkat jadi Rp 104 miliar pada Januari 2026.

PAD dari retribusi wisata juga ada besaran peningkatan yang sama. PAD retribusi pada Februari 2025 sebesar Rp 114 miliar. Meningkat menjadi Rp 116 pada Februari 2026.

"Bulan Maret, trennya (peningkatan PAD) masih bagus hingga kini," katanya.

Di sisi lain, Mahayastra memastikan kondisi warga Gianyar yang sedang bekerja di beberapa negara Arab masih aman. Tidak ada yang bermasalah.

"Termasuk di Timur Tengah. Belum ada (warga Gianyar) yang jadi korban," kata Mahayastra.

Meski masih dalam kondisi aman, Mahayastra mengaku belum memulangkan mereka. Pemulangan semua warga Indonesia di kawasan timur tengah merupakan kewenangan pemerintah pusat.

"Evakuasi itu urusan pemerintah pusat," katanya.

Okupansi Hotel Melambat 2 Persen

Okupansi hotel di Gianyar diprediksi melambat 2 persen gegara imbas perang. Hal itu diungkapkan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Gianyar Gede Paskara Karilo.

"Prediksi di 2026 agak berat. Sudah kami rasakan sejak akhir 2025, okupansi tidak sebagus tahun lalu," kata Paskara kepada detikBali, Selasa.

Paskara menyebut okupansi sejak Januari 2026 hingga kini menurun 15 persen hingga di bawah 50 persen atau mayoritas hanya 40 persen. Diprediksi, saat masa puncak wisata atau peak season pada Juni hingga Juli nanti, laju okupansi hotel hanya 2 persen saja.

Gejalanya, banyak kamar hotel yang tersedia tanpa diimbangi dengan jumlah turis yang menginap. Terutama turis asing. Situasi itu otomatis juga diprediksi berdampak ke restoran.

"Peningkatannya pelan sekali saat peak season. Karena jendela bookingan orang itu bulan ini. Tapi karena situasi perang ini, mereka tunda dahulu," kata Paskara.

Paskara menjelaskan perang Israel-Amerika Serikat dengan Iran tak hanya menghalangi turis asing Eropa karena bandara di timur tengah sebagai tempat transit banyak yang ditutup.

Kondisi ekonomi yang buruk imbas perang itu juga mencegah turis asing dari Eropa dan Asia menunda liburannya ke Bali. Harga minyak dunia yang melonjak akibat perang itu, memaksa turis asing mengutamakan kebutuhan hidup ketimbang harus berfoya-foya di Bali.

"Orang bukan hanya wait and see dari aspek pembatalan penerbangan, tapi juga ekonomi. Karena situasi perang itu global. (Harga) minyak naik, biaya hidup juga naik," katanya.

Meski melambat signifikan, Paskara mengimbau semua pengusaha hotel dan restoran agar tidak panik. Menurutnya, hotel dan restoran masih dapat bertahan terhadap imbas perang di Timur Tengah.

"Kami tidak bermaksud menakuti. Karena faktanya seperti itu. Kami sudah briefing ke staf (hotel dan restoran) agar tidak banyak spending, supaya tidak banyak hutang," tuturnya.

Masih ada turis asing yang terdampak pembatalan penerbangan dan terjebak di Bali. Meski begitu, turis yang terjebak di Bali tidak menjamin kenaikan okupansi, karena masih ada alternatif penerbangan ke Eropa tanpa melintasi kawasan timur tengah.

Selain itu, perlambatan tingkat okupansi di Gianyar, dapat dijadikan kesempatan bagi pengelola untuk membenahi fisik dan layanan hotelnya. Sehingga, saat situasi kembali normal, kualitas dunia perhotelan di Gianyar jadi lebih baik.

"(Hotel) di Ubud dan sekitarnya masih aman. Kami sudah belajar saat COVID-19. Kami bisa memperbaiki diri," katanya.




(nor/nor)











Hide Ads