detikBali

Pasar Sanglah Bocor dan Sepi, Pedagang Keluhkan Pengelolaan

Terpopuler Koleksi Pilihan

Pasar Sanglah Bocor dan Sepi, Pedagang Keluhkan Pengelolaan


Maria Christabel DK - detikBali

Kondisi terkini Pasar Sanglah, Denpasar, Selasa (3/3/2026).
Kondisi terkini Pasar Sanglah, Denpasar, Selasa (3/3/2026). (Foto: Maria Christabel DK/detikBali)
Denpasar -

Pasar Sanglah, Denpasar, kian memprihatinkan. Atap bocor, sudut pasar gelap, lantai licin, hingga sampah menumpuk. Di tengah kondisi itu, pedagang tetap dibebani iuran harian meski pengunjung terus menyusut.

"Iya ini bocor, itu bocor. Kalau hujan ya sama kayak lapangan," ujar Putu Santini, penjaga kios baju di Pasar Sanglah, saat ditemui detikBali, Selasa (3/3/2026).

Kebocoran terjadi di sejumlah titik, termasuk di area tangga yang menjadi akses utama pedagang dan pengunjung. Lantai yang terus menetes meski tanpa hujan disebut kerap menyebabkan orang terjatuh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sampai pernah ada orang jatuh di situ. Tangga nomor dua kali ya. Kan licin, namanya hujan. Walaupun nggak hujan dia memang netes. Parah. Kita yang barangnya di luar harus dimasukin, ditutup bahkan," tambahnya.

ADVERTISEMENT

Tak hanya infrastruktur, kebersihan pasar juga dikeluhkan. Tumpukan sampah dan genangan air disebut berpotensi menjadi sarang nyamuk.

"Tadi sampah masih numpuk. Apalagi kamar mandi, kotor. Setidaknya dibersihkan dua-tiga hari, disapu. Itu air tergenang di bawah, jadi mungkin banyak nyamuk ya," tutur Santini.

Santini menyebut Pasar Sanglah hanya libur saat Hari Raya Nyepi.

Kondisi terkini Pasar Sanglah, Denpasar, Selasa (3/3/2026).Kondisi terkini Pasar Sanglah, Denpasar, Selasa (3/3/2026). Foto: Maria Christabel DK/detikBali

"Kecuali Nyepi, kita memang tutup. Pasar ya tutup. Kan nggak boleh buka. Nyepi aja kita dapat free satu aja," katanya.

Ia menilai pasar mulai sepi sejak pandemi COVID-19, ditambah maraknya toko daring.

"Sebelum ada online masih lancar-lancar aja. Kan online murah-murah ya. Yah, yang mujur, mujur, yang nggak, nggak," ucapnya.

Kondisi sepi itu tetap dibarengi kewajiban membayar iuran harian, meski pedagang tidak berjualan.

"Bayarnya kan tiap hari. Bisa harian. Kalau hari ini misalnya hari ini tutup, tetap kita bayar. Besoknya di-double gitu. Jadi satu bulan itu harus sekian punya tabungan, biar bisa dipotong pas akhir bulan nanti," terangnya.

Keluhan serupa disampaikan Abdul Basid, pemilik jasa reparasi perhiasan. Ia mengaku membayar sekitar Rp 500 ribu per bulan untuk keamanan, kebersihan, dan listrik, namun pengelolaan dinilai belum maksimal.

"Sudah sering melapor, paling perbaiki dikit-dikit aja," jelas Abdul Basid.

Menurutnya, banyak kios tak mampu bertahan lebih dari dua bulan karena sepinya pengunjung.

"Semua orang sepi ya tutup. Paling orang ngontrak, dua bulan satu bulan tutup," katanya.

Berbeda dengan pedagang lain, Ketut dan Ayu, pemilik jasa jahit, mengaku usahanya tetap berjalan karena mengandalkan pelanggan tetap.

"Di sini jalan terus. Kan beda bisnisnya, sini kan jasa. Pelanggan di sini kan dominan dari Bali. Kalau biasa bikin, bulanan, pasti bikin," jelas Ketut dan Ayu.

Tim detikBali telah menghubungi Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Sewakadarma untuk konfirmasi. Namun hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan.




(dpw/dpw)










Hide Ads
LIVE