Lari kerap disebut sebagai olahraga paling sederhana. Cukup mengenakan sepatu, keluar rumah, lalu melangkah hingga keringat bercucuran.
Namun belakangan, tak sedikit orang justru merasa lelah sebelum mulai berlari. Bukan karena jarak yang ditempuh, melainkan karena kekhawatiran dinilai dari sepatu yang dipakai, merek jam tangan, hingga catatan pace.
Kondisi tersebut membuat sebagian orang menilai dunia lari kini tak lagi seramah sebelumnya. Sejumlah komunitas lari bahkan terkesan eksklusif dan diskriminatif, terutama bagi pelari pemula.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tekanan bagi Pelari Pemula
Pengalaman itu dirasakan Raka (33), karyawan swasta di Jakarta Pusat sekaligus founder komunitas lari Gerombolan Pace Besar. Ia melihat banyak pelari pemula mendapat tekanan bahkan sebelum bergabung dengan komunitas.
"Di aplikasi Threads biasanya isinya pelari semua, itu banyak sekali temen-temen yang pemula dan baru gabung ke komunitasnya let's say komunitasnya dari brand, atau komunitas yang sustain lama yang punya nama besar," kata Raka, dilansir dari detikHealth, Minggu (25/1/2026).
Menurutnya, penilaian kerap muncul dari penampilan awal saat seseorang datang ke komunitas lari.
"Ketika memang dianggap secara outfit-nya 'wah bukan pelari ya' mungkin cuman pakai celana training, sepatu training gitu ya, ya ada diskriminasi respons di sana," sambungnya.
Situasi tersebut kerap membuat pelari pemula menjadi ragu dan lebih selektif dalam memilih komunitas, yang pada akhirnya justru mempersempit peluang mereka untuk mulai berolahraga bersama.
"Padahal orang mau berkomunitas karena selain untuk sehat, tapi biar ada teman larinya deh, tau cara lari dan segala macam," ujarnya.
Mulai Lari Aja Dulu
Di komunitas Gerombolan Pace Besar, Raka menyebut jumlah anggota sudah mencapai puluhan orang. Mayoritas merupakan pelari pemula yang baru mulai menekuni olahraga lari.
"Kita ada teman-teman yang setiap minggu tuh ada improvement di sana. Dari pertama datang cuma bisa jalan, terus lari jalan, terus dia bisa lari 5 km, pace-nya udah mulai turun," kata Raka.
Hal tersebut sejalan dengan pandangan spesialis kedokteran olahraga Dr dr Listya Tresnanti Mirtha, SpKO, Subsp.APK(K), MARS. Ia menekankan pentingnya memulai olahraga lari secara perlahan, terutama bagi pemula.
"Pace keong itu bukan masalah, karena itu seringkali tanda yang benar. Masalah terbesar bagi pelari pemula itu bukan terlalu pelan, tapi terlalu cepat di awal. Itu kan justru bahaya," kata dr Listya.
Ia menambahkan, banyak pelari pemula terjebak keinginan menyamai kecepatan orang lain sejak awal.
"Banyak yang mulai lari tapi langsung FOMO, menyamakan pace-nya sama temennya. Kita ngomongnya start low, go slow. Tapi berangkatnya dari pace keong dong," tutupnya.
Artikel ini telah tayang di detikHealth. Baca selengkapnya di sini!
(dpw/dpw)










































