Pesisir Pantai Monggalan di Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung diramaikan oleh pekerja yang lalu lalang mengangkat batu ke kapal. Rencananya, material itu akan dibawa ke Nusa Lembongan.
"Memang rutinitas kami bawa ke Lembongan ini. Tapi ini baru buka dari kemarin karena cuaca sudah bagus. Sudah lima hari tidak bisa menyebrang," kata salah satu pekerja, diwawancarai detikBali, Sabtu (24/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suasana berbanding terbalik ketika menengok sisi barat dan timur para pekerja. Rumah yang berjejer di pinggir pesisir dalam kondisi yang memprihatinkan dan tidak layak huni. Hanya menyisakan beton dan sebagian kerangka atap. Tak ayal, kondisi cenderung sepi kecuali satu rumah.
Rumah tersebut merupakan rumah yang ditinggali Dewa Ayu Nyoman Dewi. Enam bulan terakhir menjadi masa melelahkan baginya karena diliputi rasa waspada akan abrasi hingga sulit tidur. Namun, Dewa Ayu mencoba tetap bertahan di rumah yang terus menerus terkikis ombak karena tak punya pilihan lain.
Baru pada Rabu (21/1/2026) dini hari, Dewa Ayu sekeluarga memutuskan mengungsikan diri setelah ada keluarga yang mengulurkan tangan padanya. Kala itu, air laut masuk dan menggenangi rumah Dewa Ayu. Getaran keras juga membuat anak-anaknya tidak berani kembali tidur.
"Enam bulan lalu saya cuma mengungsikan barang-barang. Sudah tenang airnya, lagi dibalikin ke sini. Tiap hari (rumah) dikikis. Anak saya sampai nangis karena dia yang cari uang. Dia tidak mau kerja dulu, mau lihatin rumahnya dibongkar. Aduh, pokoknya makan nggak enak, tidur tidak nyenyak," cerita Dewa Ayu.
Hari ini, bagian atap dan pintu rumahnya dibongkar. Dewa Ayu dan sang suami menatap prosesnya dengan ekspresi sedih di wajah. Bagaimana tidak, rumah yang baru dibangun dan belum terlunasi cicilan sudah harus dibongkar.
Langkah tersebut dilakukan guna menghindari dampak yang lebih parah sekaligus menyimpan material yang masih layak supaya bisa digunakan kembali nantinya. Bahkan, pohon besar depan di depan rumah Dewa Ayu juga dipotong sebagian untuk menghindarinya roboh ke rumahnya.
"Ini bangunnya pakai uang panas. Pinjam uang dari bank. Baru satu tahun umur rumahnya," ucap Dewa Ketut Oka Suwati, suami Dewa Ayu.
Sejak 2025, tutur Dewa Ayu, ombak air makin mendekat ke pemukiman warga padahal berjarak cukup jauh. Tanggul sisi barat tak lagi kokoh membendung terjangan ombak. Perlahan jebol juga. Menurut Dewa Ayu, perlu dibangun tanggul yang membentang dari sisi barat ke timur.
Selain rumah, warung kecil milik Dewa Ayu sudah menjadi korban ganasnya ombak lebih dahulu. Sudah beberapa bulan terakhir Dewa Ayu kehilangan mata pencahariannya.
Ia pun belum punya rencana untuk masa depan keluarganya. Bantuan apapun juga belum diterima. Untuk saat ini, Dewa Ayu hanya bisa menitipkan anaknya tinggal di Banjar Pancingan dan mertuanya di Banjar Bingin.
Sementara itu, petugas berpakaian Tagana (Taruna Siaga Bencana) milik Dinas Sosial Kabupaten Klungkung terlihat memasuki sebuah warung sekaligus rumah warga. Seusai mendata KTP pemilik rumah, ia berlalu.
Pemilik rumah adalah Wayan Galung. Rumahnya juga turut terendam pada Rabu lalu dan surut dalam waktu 15 menit. Meski rumahnya tidak terkikis, Gulang tetap merasa khawatir karena kondisi sudah berlangsung setahun terakhir.
Berdasarkan pola yang ada, Galung berujar, puncak gelombang akan terjadi pada pertengahan tahun sekitar bulan Juni dan Juli. Untuk itu, pihaknya terpaksa akan merelokasi diri.
Pilihan yang paling memungkinkan adalah pulang kampung ke Nusa Penida. Namun itu pun bukan tanpa kendala. Galung merasa sektor pariwisata yang digencarkan di Nusa Penida tidak menyediakan ruang untuknya.
"Kakek saya dulu tahun 1964 yang merantau dan menetap di sini. Nanti bulan 6-7 siap-siap dah kami. Tapi kalau pulang, bingung kerja apa. Saya di sini kan bertani. Di sana sudah tidak bisa bertani. Semua ke pariwisata," imbuh Galung.
Dampak abrasi lainnya, anggota kelompok nelayan memilih berpindah lokasi melaut. Sekitar enam nelayan membawa pergi kapalnya dari area parkir depan warung Galung. Bahkan air sumur yang dikonsumsi warga sehari-hari kini terasa tidak segar dan lebih menyerupai air laut.