Universitas Udayana (Unud) mengusulkan pembentukan pusat riset penanganan rabies di Bali. Hal itu disampaikan saat penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerja sama dengan Badan Karantina Indonesia (Barantin).
Rektor Unud, I Ketut Sudarsana, mengungkapkan penularan penyakit dari produk pangan maupun hewan peliharaan milik warga maupun wisatawan negara di Bali perlu menjadi perhatian. Salah satunya penyakit anjing gila atau rabies yang kerap ditemukan di Bali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami mengusulkan adanya pusat riset tentang penanganan rabies, sehingga Bali sebagai pusat pariwisata turut mendukung program pemerintah Bali bebas rabies," ungkap Sudarsana saat penandatanganan MoU dengan Barantin di Gedung Pascasarjana Unud, Denpasar, Bali, Kamis (22/1/2026).
Menurut Sudarsana, potensi penularan penyakit dari hewan perlu dideteksi dengan cepat, khususnya di pintu masuk Bali seperti bandara maupun pelabuhan. Ia menerangkan kerja sama dengan Barantin berupa pelaksanaan riset serta penggunaan fasilitas laboratorium secara bersama.
"Kadang-kadang penyakit ini kan macam-macam. Bisa saja penyakit itu (muncul), Karantina belum ready laboratoriumnya, tapi di perguruan tinggi ready," ujar Sudarsana.
"Tahun ini riset kami arahkan pada riset-riset yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat," pungkasnya.
Kepala Barantin, Sahat M Panggabean, menjelaskan kerja sama ini merupakan bentuk nyata dalam menangani penularan penyakit yang berasal dari hewan peliharaan maupun produk pangan. Ia menilai masalah ini perlu mendapat perhatian khusus karena Bali merupakan destinasi wisata internasional.
"Saya minta pakar-pakar dari Udayana itu membantu (Badan) Karantina terkait isu-isu penyakit yang sedang marak saat ini. Baik penyakit lintas negara atau dari negeri yang mungkin akan bangkit," ungkap Sahat.
Sahat menilai Barantin perlu mempertegas peraturan karantina agar wisatawan yang datang ke Bali merasa aman selama berlibur. Ia pun menyoroti turis asing yang kerap berlibur ke Pulau Dewata bersama hewan peliharaannya.
"Kadang-kadang wisatawan datang bersama hewan kesayangan. Karena itu, kami harus mengendalikan hewan-hewan kesayangan ini supaya tetap nyaman masuk Indonesia," ujar Sahat.
"Saya ingin nanti semua tindakan karantina itu ada dasar ilmiahnya. Intinya karantina harus selalu berdasarkan scientific information atau scientific judgement-nya," pungkasnya.
(iws/iws)










































