Peringatan Hari Dharma Samudera 2026 oleh Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Denpasar dirangkai dengan peresmian monumen kapal selam di Pantai Prapat Agung, Buleleng, Bali. Monumen tersebut sebagai bentuk penghormatan bagi kru KRI Nanggala-402 yang gugur dalam tugas.
"Peresmian Monumen Kapal Selam ini merupakan wujud kepedulian dan penghormatan masyarakat Bali terhadap para Pahlawan Laut Indonesia, khususnya para prajurit KRI Nanggala-402," ungkap Komandan Komando Operasi Kapal Selam Laksma TNI Muhammad Iwan Kusumah, Kamis (15/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Iwan mengatakan monumen ini menjadi simbol sinergi antara rakyat dan prajurit dalam menjaga kedaulatan Indonesia. Ia berharap semangat pengabdian 53 kru Nanggala-402 dapat menginspirasi prajurit TNI AL.
"Semangat pengabdian dan pengorbanan mereka akan selalu menjadi inspirasi bagi generasi penerus TNI Angkatan Laut dan seluruh masyarakat Indonesia," imbuhnya.
Posisi monumen tersebut menghadap ke arah laut atau lokasi terjadinya tragedi yang menimpa 53 kru Nanggala-402. Nama-nama prajurit dan awak KRI Nanggala-402 juga terukir pada monumen tersebut. Terdapat pula tulisan 'Tabah Sampai Akhir KRI Nanggala 402, 21 Oktober 1981-21 April 2021'.
Pemilihan Pantai Prapat Agung di kawasan Pura Segara Rupek sebagai lokasi monumen bukan tanpa alasan. Lokasi ini dinilai strategis secara historis dan spiritual karena berada dalam wilayah Taman Nasional Bali Barat yang disucikan.
"Berada di pinggir laut yang menghadap langsung ke area musibah di mana 53 prajurit-prajurit terbaik bangsa ini mengalami musibah saat melaksanakan tugas negara," jelas Iwan.
Tragedi KRI Nanggala-402 juga menjadi momentum evaluasi bagi internal TNI AL. Iwan menekankan pentingnya kewaspadaan dari berbagai sisi agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Anggota DPD RI I Gusti Ngurah Arya Wedakarna (AWK) turut hadir dalam peresmian monumen tersebut. AWK menceritakan awal mula inisiatif ini muncul. Ia mengaku sempat mempertanyakan alasan monumen yang hendak dibangun di wilayah luar Bali.
"Kita berinisiatif, kenapa monumen kapal selam dan terjadi di wilayah Bali ini, kenapa tidak dibuat di Bali malah di Jawa Timur? Maka dari itu, kami (minta) izin dari TNI AL dan kita bisa mewujudkan ini," ujar AWK.
AWK mengatakan proses pembangunan monumen dilakukan secara kolaboratif. AWK menyebut proyek ini merupakan hasil gotong royong dari berbagai pihak, termasuk dukungan dari kementerian terkait. "Ini gotong royong dari berbagai CSR dan Kementerian Kehutanan," imbuhnya.