detikBali

Macet Ancam Pariwisata Bali, Koster Prioritaskan Pembangunan Infrastruktur

Terpopuler Koleksi Pilihan

Macet Ancam Pariwisata Bali, Koster Prioritaskan Pembangunan Infrastruktur


Sui Suadnyana, Wijaya Kusuma - detikBali

Gubernur Bali, Wayan Koster, berpidato dalam acara peletakan batu pertama pembangunan Jalan Pintas Singaraja-Mengwitani titik 9 dan 10 di Buleleng, Rabu (7/1/2026). (Dok. Pemkab Buleleng)
Foto: Gubernur Bali, Wayan Koster, berpidato dalam acara peletakan batu pertama pembangunan Jalan Pintas Singaraja-Mengwitani titik 9 dan 10 di Buleleng, Rabu (7/1/2026). (Dok. Pemkab Buleleng)
Buleleng -

Gubernur Bali, Wayan Koster, menilai kunjungan wisata ke Pulau Dewata berpotensi terus merosot jika persoalan kemacetan tidak segera ditangani secara serius. Karena itu, pembangunan infrastruktur menjadi prioritas utama di periode kedua Koster menjabat.

"Kalau masalah macet ini dibiarkan, pariwisata Bali bisa merosot. Karena itu saya prioritaskan pembangunan infrastruktur agar tuntas di periode kedua ini," kata Koster ditemui, Rabu (7/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Koster, infrastruktur menjadi prioritas karena Bali merupakan destinasi wisata utama dunia. Sektor pariwisata memberi manfaat besar bagi daerah.

"Pariwisata Bali berkontribusi 66% terhadap ekonomi Bali. Jadi sebagian besar kemajuan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Bali ditopang oleh pariwisata," ujar Koster.

ADVERTISEMENT

Koster memaparkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali sepanjang 2025 hingga 31 Desember mencapai 7.050.000 orang. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dalam sejarah pariwisata Bali.

"Sebelum COVID-19 itu 6,2 juta. Tahun 2025 sudah 7.050.000. Jadi kalau ada yang mengatakan Bali sepi, itu sekarang tiarap dia. Justru lonjakannya luar biasa," tegas Koster.

Tak cuma soal kunjungan turis asing yang naik, Koster mengungkapkan pendapatan hotel dan restoran di seluruh kabupaten/kota di Bali juga mengalami peningkatan. Tingkat hunian atau okupansi hotel pun cukup tinggi, berada di kisaran 75 hingga 85%.

Meski memberikan manfaat ekonomi besar, Koster menilai pariwisata juga membawa dampak negatif yang harus segera ditangani. Dua persoalan utama yang disorot adalah kemacetan dan sampah.

"Dampak negatifnya yang pertama macet, yang kedua sampah. Ini harus diselesaikan. Macet ini tidak bisa diselesaikan secara buru-buru karena berkaitan dengan infrastruktur jalan dan moda transportasi," jelas Koster.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali, terang Koster, telah menyusun rencana prioritas pembangunan infrastruktur selama lima tahun ke depan. Infrastruktur tersebut dirancang untuk menghubungkan Bali utara, selatan, timur, barat, dan Bali tengah guna mengurai kemacetan.

Koster mengakui pemerintah daerah tidak mampu menyelesaikan persoalan kemacetan sendirian karena keterbatasan anggaran. Ia pun telah melaporkan kondisi tersebut kepada Menteri Pekerjaan Umum (PU).

"Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali itu mencapai 45% dari total kunjungan wisatawan asing ke Indonesia. Dari 13,9 juta wisatawan asing ke Indonesia, sekitar 6,3 juta datang ke Bali," papar Koster.

Koster menghitung devisa wisatawan asing yang dikontribusikan Bali mencapai sekitar Rp170 triliun atau setara 53% dari total devisa pariwisata nasional.

"Masalah macet ini harus diselesaikan. Daerah tidak mampu karena tidak punya anggaran cukup. Karena itu saya berkeluh kesah kepada Pak Menteri PU. Astungkara beliau sangat memahami dan mendukung penuh pembangunan infrastruktur untuk mengatasi kemacetan di Bali," tutur Koster.




(hsa/hsa)











Hide Ads