detikBali

6 Vihara dan Klenteng untuk Rayakan Imlek di Bali

Terpopuler Koleksi Pilihan

6 Vihara dan Klenteng untuk Rayakan Imlek di Bali


Adila Farhah Nursyifa - detikBali

Perayaan Imlek di Vihara Satya Dharma, Benoa, Denpasar, Bali, Minggu (22/1/2023).
Vihara Satya Dharma, Benoa, Denpasar, Bali. (Foto: Nuranda Indrajaya/detikBali)
Daftar Isi
Denpasar -

Masyarakat Tionghoa di seluruh dunia sebentar lagi merayakan Tahun Baru Imlek 2026. Tahun ini, Imlek 2577 Kongzili jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026.

Perayaan Imlek di Bali biasanya berlangsung meriah. Wisatawan yang sedang berlibur di Bali juga dapat merayakan Imlek di sejumlah vihara dan klenteng yang tersebar di sejumlah lokasi di Pulau Dewata.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut enam klenteng dan vihara yang menjadi pusat ibadah umat Tri Dharma sekaligus tempat merayakan Imlek di Bali:

1. Klenteng Ling Gwan Kiong, Singaraja

Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Ling Gwan Kiong, salah satu klenteng tertua di Gumi Panji Sakti, Buleleng, Bali.Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Ling Gwan Kiong, salah satu klenteng tertua di Gumi Panji Sakti, Buleleng, Bali. (Foto: Made Wijaya Kusuma/detikBali)

Klenteng Ling Gwan Kiong merupakan salah satu klenteng tertua di Bali yang berdiri sejak 1873. Klenteng ini berada di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng, Singaraja, dan menjadi pusat aktivitas keagamaan masyarakat Tionghoa di Bali utara.

ADVERTISEMENT

Suasana akulturasi terasa kuat dengan alunan gamelan Bali saat perayaan Imlek di Klenteng Ling Gwan Kiong. Pada malam hari, atraksi barongsai dan tari Naga Liong kerap digelar di area pelabuhan. Perayaan Imlek biasanya ditutup dengan pesta kembang api saat pergantian tahun.

2. Vihara Satya Dharma, Benoa

Perayaan Imlek di Vihara Satya Dharma, Benoa, Denpasar, Bali, Minggu (22/1/2023).Perayaan Imlek di Vihara Satya Dharma, Benoa, Denpasar, Bali, Minggu (22/1/2023). Foto: Nuranda Indrajaya/detikBali

Vihara Satya Dharma merupakan klenteng terbesar dan paling terkenal di Bali. Lokasinya di kawasan Pelabuhan Benoa, Denpasar, atau sebelum pintu masuk Tol Bali Mandara dari arah Denpasar. Vihara ini dibangun pada 1991 dan didedikasikan untuk Dewa Samudera.

Tempat ibadah ini digunakan oleh umat Buddha, Taoisme, dan Konghucu. Arsitekturnya menampilkan perpaduan budaya Tionghoa dan Hindu Bali, terlihat dari keberadaan pelinggih serta tugu karang di bagian depan vihara.

Saat Imlek, vihara ini dapat menerima hingga ribuan umat per hari. Selain ibadah, pengunjung juga dapat menyaksikan prosesi sembahyang, pertunjukan barongsai, dan pesta kembang api.

3. Vihara Amurva Bhumi (Kongco Blahbatuh), Gianyar

Sejumlah jemaat berdatangan ke Vihara Amurva Bhumi, Desa Kemenuh, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Bali, Sabtu (10/2). Dengan pakaian nuansaSejumlah jemaat berdatangan ke Vihara Amurva Bhumi, Desa Kemenuh, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Bali.

Vihara Amurva Bhumi terletak di Kemenuh, Blahbatuh, Gianyar, Bali. Vihara ini juga dikenal sebagai Kongco Blahbatuh. Vihara ini berdiri sejak 1826 dan diperkirakan didirikan oleh imigran asal Hainan.

Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, vihara ini juga menjadi pusat pendidikan dan kebudayaan umat Buddha. Setiap hari, ratusan umat dan wisatawan berkunjung, termasuk wisatawan mancanegara. Lokasinya kerap menjadi bagian dari jalur wisata spiritual yang menghubungkan Pura Batur di Bangli dan Vihara Dharma Giri di Tabanan.

4. Vihara Dharmayana (Kongco Leeng Gwan Bio), Kuta

Jelang Imlek warga keturunan Tionghoa di Bali menggelar sembahyang tolak bala. Aktifitas tersebut terlihat di Vihara Dharmayana, Kuta, Bali.Warga keturunan Tionghoa menggelar sembahyang tolak bala jelang Imlek di Vihara Dharmayana, Kuta, Bali, beberapa waktu lalu. Foto: Aditya Mardiastuti

Vihara Dharmayana berada di Jalan Blambangan, Kuta, Badung. Vihara ini merupakan salah satu dari sembilan tempat ibadah Tri Dharma yang memuja Tan Hu Cin Jin, tokoh penting yang juga dikenal sebagai arsitek Pura Taman Ayun di Mengwi.

Vihara ini terkenal di kalangan wisatawan Taiwan dan Korea, terlebih karena pernah dikunjungi Dalai Lama ke-14, Tenzin Gyatso. Meski digunakan oleh umat Tri Dharma, vihara ini memiliki ruang khusus umat Buddha bernama Dharmasala. Saat perayaan Imlek, suasana vihara semakin meriah dengan penampilan liong dan barongsai di Gedung Serbaguna.

5. Klenteng Seng Hong Bio, Buleleng

Klenteng Seng Hong Bio berdiri sejak 1873. Tempat ibadah ini menghadap ke Jalan Pulau Flores Nomor 1, Kampung Baru, Kecamatan Buleleng. Seng Hong Bio dikenal sebagai tempat ibadat Tri Dharma yang digunakan oleh umat Buddha, Taoisme, dan Konghucu.

Kelenteng ini berukuran relatif kecil dan letaknya sangat berdekatan dengan Kelenteng Ling Gwan Kiong, yang dibangun pada tahun yang sama. Kedekatan lokasi tersebut membuat perayaan Imlek dan Cap Go Meh berlangsung semakin semarak.

Rangkaian perayaan biasanya diawali dengan kegiatan bersih-bersih kelenteng yang dilakukan secara bersamaan, kemudian dilanjutkan dengan berbagai prosesi ibadah dan tradisi perayaan Tahun Baru Imlek.

6. Griya Kongco Dwipayana (Ling Sii Miao), Denpasar

Warga keturunan Tionghoa mengenakan busana adat Bali saat melaksanakan persembahyangan Tahun Baru Imlek 2573 di Griya Kongco Dwipayana Tanah Kilap, Denpasar, Bali, Selasa (1/2/2022). Perayaan Tahun Baru Imlek 2573 yang bertepatan dengan hari suci Hindu di Bali tersebut digelar dengan mengedepankan toleransi guna menjaga kerukunan antar umat serta memohon supaya COVID-19 cepat berakhir. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/aww.Warga keturunan Tionghoa mengenakan busana adat Bali saat melaksanakan persembahyangan Tahun Baru Imlek 2573 di Griya Kongco Dwipayana Tanah Kilap, Denpasar, Bali, Selasa (1/2/2022). ( Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo)

Griya Kongco Dwipayana atau Ling Sii Miao berlokasi di Jalan Tanah Kilap, Pemogan, Denpasar. Kelenteng ini berdiri sejak 1999 dan bersebelahan langsung dengan Pura Luhur Candi Nirmala Tanah Kilap yang mencerminkan harmonisasi lintas keyakinan.

Meski tergolong baru, klenteng ini menyimpan prasasti yang menyebutkan bahwa utusan Dinasti Qing pernah singgah di lokasi tersebut ratusan tahun lalu. Selain umat lokal, kelenteng ini sering dikunjungi wisatawan mancanegara dari Tiongkok, Jepang, Korea, maupun negara-negara Asia Tenggara.

Akulturasi budaya Hindu Bali tampak melalui simbol Sang Hyang Acintya serta keberadaan Padmasana di area kelenteng. Presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), juga pernah berkunjung ke tempat ini.

Nah, itulah beberapa referensi vihara yang bisa dilakukan untuk merayakan Imlek di Bali. Semoga bermanfaat!




(iws/iws)











Hide Ads