Liputan Khusus Sampah di Bali

Teba Modern Bukan Solusi Jangka Panjang

Ni Made Lastri Karsiani Putri, I Dewa Made Krisna Pradipta - detikBali
Jumat, 05 Sep 2025 17:13 WIB
Foto: Kondisi TPA Suwung pada Juli 2025. (dok. DLHK Bali)
Denpasar -

Pernyataan Gubernur Bali Wayan Koster beberapa waktu lalu yang meminta masyarakat mengurus sampah sendiri menuai beragam tanggapan. Sebagian besar warga menilai Pemprov Bali juga bertanggung jawab penuh terhadap masalah sampah.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Udayana (Unud), Prof. Dr. Ir. I Gusti Bagus Wijaya Kusuma menilai pernyataan Koster tersebut sebenarnya tidak salah secara substansi. Namun, menurut Bagus Wijaya, ucapan itu salah tempat.

"Saya rasa ucapan beliau tidak salah. Namun, seharusnya tidak disampaikan di depan awak media. Sekarang kalau masyarakat pintar lalu ucapan itu dibalikkan. Apakah di kantor atau rumah jabatan gubernur sudah ada unit pengolahan sampah mandiri?" kata Wijaya, diwawancarai detikBali, Kamis (21/8/2025).


Menurutnya, sebelum pernyataan itu dikeluarkan, Gubernur harus menunjukkan bukti kepada media dan masyarakat bahwa sekelas gubernur mampu mengoordinasi pengelolaan sampah di rumahnya sendiri.

"Kalau sudah ada bukti, pasti tumbuh rasa malu di kalangan masyarakat. Dengan begitu masyarakat akan mengikutinya. Demikian juga di kantor-kantor pemerintahan sudah disiapkan unit pengolahan sampah mandiri sehingga masyarakat Bali melihat bukti bagaimana proses pengelolaan sampah berbasis sumber itu," ujarnya.

Kemudian setelah TPA Suwung bakal ditutup, muncul wacana agar masyarakat membangun teba modern. Menurut Prof. Wijaya, hal tersebut bukanlah solusi mengatasi sampah untuk jangka waktu panjang. Bahkan menurutnya hal itu akan menimbulkan masalah baru berupa pencemaran lingkungan.

"Teba modern itu kan di bawahnya tanah. Sampah organik yang bercampur sisa-sisa makanan menyebabkan terjadinya dekomposisi pada sampah organik yang berakibat terbentuknya leached. Leached ini akan masuk ke tanah dan mencemari dasar dari teba modern," jelasnya.
Oleh sebab itu, desain dari teba modern pada bagian alasnya harus diberikan semacam penampungan leached yang bisa disedot ketika sudah melebihi kapasitas penampungan.

Bahkan, Wijaya saat memberikan ilmu kepada mahasiswanya tidak merekomendasikan penggunaan teba modern ini kepada mahasiswanya dan lebih 'prefer' ke biodigester atau komposter.

Kemudian, Wijaya juga menyayangkan Pemprov Bali tidak mengoptimalkan keberadaan tiga Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang sudah dibiayai oleh pemerintah pusat dan sudah diresmikan pada tahun 2024 lalu.

Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan, tiga TPST yang dirancang untuk mengelola 1.000 ton sampah per hari dengan sistem one stop one day. Nyatanya, tidak mampu melayani jumlah tersebut.



Simak Video "Video Pramono Pastikan DKI Siap Bantu Angkut Sampah Tangsel"


(hsa/hsa)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork