Fenomena Bunuh Diri di Bali

Pelaku Bunuh Diri Dominan Laki-laki, Prof Suryani: Pemicu Masalah Sepele

Tim detikBali - detikBali
Kamis, 29 Sep 2022 10:57 WIB
ilustrasi
Ilustrasi mahasiswa bunuh diri. Foto: Dok.Detikcom
Denpasar -

Prof. Dr. dr. Luh Ketut Suryani, SpKJ (K) mengungkap bahwa fenomena kasus bunuh diri di Bali sejak tahun 2000 hingga 2022 didominasi oleh kaum laki-laki. Suryani Institute for Mental Health (SIMH) mencatat sejak tahun 2000 hingga 28 September 2022 total kasus bunuh diri sebanyak 2.540 kasus.

"Rata-rata usia dalam kasus bunuh diri di Bali dari tahun 2000-2022 mulai dari usia 21-59 tahun dengan didominasi jenis kelamin laki-laki, dengan lebih dari 50 persen tiap tahunnya," ungkap Prof Suryani, Rabu (28/9/2022).

Dari jumlah tersebut, kasus bunuh diri di Bali terbanyak adalah pada tahun 2004 yakni sebanyak 180 kasus. Prof Suryani menilai saat ini bunuh diri seolah-olah seperti hal yang biasa dan penyelesaian yang terbaik untuk menghadapi kehidupan ini.

Pemicu seseorang melakukan bunuh diri menurut Prof Suryani dari hal-hal sepele seperti dimarahi, tidak punya teman, tidak punya uang, harga diri, sakit dan lainnya.


"Masalahnya kecil-kecil seperti dimarahi, tidak punya teman, tidak punya uang, harga diri, sakit dan lain-lain. Kalau kita lihat masalahnya tidak terlalu besar tapi, bagi mereka itu adalah masalah sangat besar, karena memang mereka tidak mempunyai kemampuan untuk menghadapi tantangan," papar Prof Suryani.

Faktor Penyebab Bunuh Diri

Prof Suryani menjelaskan beberapa faktor bunuh diri seperti putus asa, merasa tidak ada harapan dan tidak memiliki ruang serta seseorang untuk diajak berkomunikasi juga mempengaruhi tingkat kasus bunuh diri. Faktor lain yang menurut Prof Suryani tidak luput dari fenomena bunuh diri di Bali adalah pasangan suami istri yang hanya sekedar memiliki anak namun dengan tidak adanya persiapan.

"Saya lihat kehidupan di Bali ini sibuk, mereka sekedar membuat anak dan bukan mempersiapkan serta melahirkan anak berkualitas. Ini tidak sesuai dengan filosofi yang diajarkan. Konsep hidup saat ini sudah berubah dan lebih memperhatikan materi," jelas Prof Suryani.

Prof Suryani menilai banyak orang tua yang lebih memilih untuk berfokus pada mencari materi dan menyerahkan pola asuh anak kepada kakek atau nenek hingga pembantu. Ia mengatakan, pendidikan karakter bagi anak-anak sangatlah penting, khususnya pada 10 tahun pertama tumbuh kembang anak.

"Di Bali pun dalam upacara-upacara 10 tahun pertama yang mana upacaranya lengkap untuk menjaga anak menjadi orang spesial. Pembinaan anak dari kecil itulah modal kita dalam melahirkan anak-anak berkualitas," sebutnya.

Selengkapnya klik halaman selanjutnya



Simak Video "Dramatis! Evakuasi ABG Panjat Tiang Sutet Diduga Hendak Bunuh Diri"
[Gambas:Video 20detik]