Jerit Petani Garam Yeh Malet Karangasem, Panen Numpuk Tak Terjual

Jerit Petani Garam Yeh Malet Karangasem, Panen Numpuk Tak Terjual

I Wayan Selamat Juniasa - detikBali
Minggu, 25 Sep 2022 12:17 WIB
Petani garam yang ada di Banjar Dinas Yeh Malet saat melakukan aktivitas pembuatan garam.
Petani garam yang ada di Banjar Dinas Yeh Malet saat melakukan aktivitas pembuatan garam. Foto: I Wayan Selamat Juniasa
Karangasem -

Keberadaan puluhan petani garam yang ada di wilayah Banjar Dinas Yeh Malet, Desa Antiga Kelod, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem menemui beberapa kendala. Salah satu kendala yang mereka alami saat ini adalah terkait pemasaran terutama saat panen di musim kemarau.

Wayan Kari (50) salah seorang petani garam Yeh Malet mengatakan bahwa di saat memasuki musim kemarau kendala terbesar para petani garam yang ada di wilayah Banjar Dinas Yeh Melet adalah terkait pemasaran. Karena saat itu garam yang dihasilkan menumpuk sedangkan pembeli sedikit.

"Kendala utamanya kami saat ini adalah terkait pemasaran, selain itu kami para petani garam di Yeh Malet juga masih terkendala peralatan untuk membuat garam yang masih sangat minim sehingga hasil yang didapat juga kurang maksimal," kata Kari, Minggu (25/9/2022).


Saat musim kemarau, para petani sekali menjual garam bisa dapat penghasilan rata-rata Rp 200 ribu kotor. Itu pun petani menjual garam 2 hari sekali.

Sedangkan saat musim penghujan, petani menjual garam bisa mendapat penghasilan Rp 230 ribu sekali jual. Namun, tergantung stok garam yang masih tersedia saat musim hujan.

"Untuk biaya hidup sehari-hari dicukup-cukupkan. Tapi kalau kepepet ya jual ternak sapi peliharaan," jelas Kari.

Selain masalah tersebut, faktor cuaca juga berpengaruh bagi petani garam. Karena di saat musim hujan praktis para petani menjadi nganggur karena tidak bisa berproduksi sama sekali. Selama itu juga biasanya para petani garam akan menjual stok-stok garam yang masih tersisa untuk dijual.

"Biasanya kami menjual garam ke pasar-pasar tradisional yang ada di wilayah Kabupaten Karangasem dan juga Klungkung dengan harga kisaran Rp 4 ribu-Rp 6 ribu per kilogram," jelas Kari yang mengaku sudah puluhan tahun menjadi petani garam.

Kari juga berharap kepada pemerintah Kabupaten Karangasem dan juga instansi terkait lainnya supaya lebih memperhatikan petani garam yang ada di wilayah Banjar Dinas Yeh Malet. Terutama untuk membantu dalam hal pemasaran.

Sebab selama ini sangat minim perhatian dari pemerintah terhadap para petani garam yang ada di Yeh Malet. Pemerintah dirasa lebih memperhatikan petani garam yang ada di wilayah Kusamba dan juga Abang.

Sedangkan petani garam yang ada di wilayah Banjar Dinas Yeh Malet tidak begitu mendapat perhatian dan tidak banyak ada orang yang tahu. Padahal di Banjar Dinas Yeh Malet terdapat puluhan petani garam dan itu merupakan satu-satunya mata pencaharian mereka.

"Saya berharap kepada pemerintah, terutama Bapak Bupati Karangasem agar bisa membantu kami para petani garam yang ada di sini terutama dalam hal pemasaran dan peralatan. Supaya kami bisa lebih berkembang lagi kedepannya," harap Kari.

Sementara itu, Kelian Banjar Dinas Yeh Malet I Nengah Sarianta membenarkan bahwa di saat musim kemarau para petani garam Yeh Malet memang cukup kesulitan melakukan pemasaran karena stok garam melimpah. Tapi, hal tersebut masih bisa di atasi saat memasuki musim hujan, karena bisanya stok garam akan habis terjual.

"Saat ini, di Banjar Dinas Yeh Malet ada sekitar 40 petani garam yang masih aktif. Sehingga saat musim panas stok garam lumayan banyak karena penjualannya hanya ke pasar-pasar tradisional saja," ujar Sarianta.

Sarianta juga berharap kepada pemerintah agar ada bantuan terkait pemasaran dan juga peralatan bagi para petani garam yang ada di wilayah Banjar Dinas Yeh Malet. Karena potensi petani garam Yeh Malet sangat besar untuk dikembangkan ke depannya.



Simak Video "Dirut Sumatraco Langgeng Makmur Jadi Tersangka Kasus Impor Garam"
[Gambas:Video 20detik]
(nor/nor)