Kisah Warga Seraya Timur Tempuh 3 Km-Antre Lama untuk Dapat Air Bersih

Kisah Warga Seraya Timur Tempuh 3 Km-Antre Lama untuk Dapat Air Bersih

I Wayan Selamat Juniasa - detikBali
Selasa, 13 Sep 2022 17:05 WIB
Beberapa masyarakat Banjar Dinas Bukit Catu saat mencari air ke sumber mata air Bukit Kejumas dengan menempuh jarak 3 kilometer
Foto: Beberapa masyarakat Banjar Dinas Bukit Catu saat mencari air ke sumber mata air Bukit Kejumas dengan menempuh jarak 3 kilometer. (I Wayan Selamat Juniasa/detikBali)
Karangasem -

Warga Desa Seraya Timur, Kecamatan dan Kabupaten Karangasem terutama wilayah Banjar Dinas Bukit Catu, Tinjalas, Tanah Barak dan Tukad Buah bagian atas harus rela menempuh jarak beberapa kilometer untuk mendapatkan air bersih. Setelah sampai, beberapa warga masih harus antre untuk mendapatkan air bersih, karena jumlah warga yang mencari air di sumber mata air yang diberi nama Bukit Kejumas sangat banyak.

Sedangkan air yang keluar sangat kecil bahkan membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam lamanya untuk membuat satu ember yang berisi air 22 liter penuh. Selain jarak yang jauh, medan yang dilalui juga sangat menantang karena warga harus melewati tebing yang sangat terjal sehingga harus berhati-hati saat berjalan.

Salah seorang warga asal Banjar Dinas Bukit Catu, Ni Luh Metri (32) menceritakan pengalamannya selama ini mencari air ke Bukit Kejumas. Ia mengaku dalam sehari bisa dua kali datang ke sana dengan menempuh jarak kurang lebih 3 kilometer. Setelah sampai di sana, ia harus antre dulu menunggu giliran.


"Dari rumah untuk sampai di sini butuh waktu kurang lebih satu jam dan setelah sampai di sini harus antre dulu. Ini saya sudah empat jam di sini belum juga dapat giliran karena sudah banyak yang lebih dulu datang," kata Luh Metri saat ditemui di sumber mata air Bukit Kejumas, Selasa (13/9/2022).

Luh Metri mengaku dalam perjalanan pulang saat membawa air satu ember ia mengaku sedikit ada rasa takut karena harus melewati tebing yang curam. Tapi demi mendapatkan air bersih semua rasa takut tersebut ia singkirkan karena itu merupakan satu-satunya jalan untuk mendapat air bersih.

Ia juga mengaku, satu ember air tersebut ia pergunakan untuk minum, memasak dan mencuci perabot, dan ketika sudah habis maka ia akan kembali pergi ke Bukit Kejumas untuk mencari air bersih.

"Kalau rasa takut itu tidak dilawan di mana kita dapat air, sedangkan air PDAM tidak bisa naik ke tempat kami. Kami mencari air sejauh ini diutamakan untuk minum dan memasak dulu jika ada lebih baru digunakan untuk mandi kalau tidak cukup ya kita cari lagi kadang rasa capek saya lawan demi mendapat air bersih," kata Luh Metri.

Hal senada juga dikatakan oleh I Nyoman Patra (45) yang juga mengaku harus menempuh jarak 3 kilometer dari rumahnya untuk sampai ke sumber mata air. Tapi hal tersebut terpaksa ia lakukan demi mendapatkan air bersih untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

"Dalam sehari hampir ada puluhan orang yang antre untuk mendapatkan air bersih di sumber mata air Bukit Kejumas, jadi siapa yang datang lebih dulu dia yang dapat duluan yang datang belakangan harus nunggu beberapa jam," kata Nyoman Patra.

Sementara itu, Perbekel Desa Seraya Timur, I Made Pertu mengatakan masalah kesulitan untuk mendapatkan air bersih di wilayahnya memang sudah terjadi sejak lama dan sampai saat ini masih belum menemukan solusi yang terbaik. Terutama untuk masyarakat yang tinggal di wilayah bagian atas.

"Masyarakat yang tinggal di wilayah atas semuanya kesulitan mendapat air bersih, sedangkan yang tinggal di wilayah bawah dapat air dari PDAM tapi itupun dapat airnya secara bergilir. Kadang seminggu sampai dua Minggu baru dapat giliran," kata Pertu.

Sehingga warga yang tinggal di wilayah bawah harus punya tempat penampungan air di masing-masing rumah karena dapat airnya giliran. Tapi meskipun dapatnya giliran itu lebih mending daripada tidak dapat sama sekali. Jadi pihaknya berharap untuk ke depannya semua pihak terkait bisa mencarikan solusi supaya masalah kekurangan air bersih bisa secepatnya teratasi.

"Bagi masyarakat kami, air merupakan hal yang sangat berharga, bahkan mungkin lebih berharga dari emas," kata Pertu.

Pertu menyebutkan untuk di wilayah Banjar Dinas Bukit Catu ada sekitar 170 kepala keluarga (KK) yang kesulitan mendapatkan air bersih, Banjar Dinas Tinjalas 185 KK, Banjar Dinas Tanah Barak 200 KK dan Banjar Dinas Tukad Buah 150 KK dan semua masyarakat tersebut tinggal di wilayah atas.



Simak Video "Warga Dompu Berebut Air Bersih, Sudah 2 Pekan Langka!"
[Gambas:Video 20detik]
(kws/kws)