108 Ekor Curik Bali Dilepasliarkan di TNBB Gilimanuk

108 Ekor Curik Bali Dilepasliarkan di TNBB Gilimanuk

I Ketut Suardika - detikBali
Jumat, 02 Sep 2022 23:15 WIB
Jembrana -

Sebanyak 108 ekor jalak Bali (leucopsar rothschildi) atau yang biasa disebut curik Bali dilepasliarkan ke habitatnya di kawasan Taman Nasional Bali Barat, Gilimanuk. Pelepasliaran jalak Bali itu merupakan dilakukan saat puncak peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN), Jumat (2/8/2022).

Kepala Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB) Agus Ngurah Krisna Kepakisan mengatakan, curik Bali yang dilepasliarkan telah melalui proses habituasi selama lebih dari 4 bulan di Resort Gilimanuk, Resort Teluk Brumbun, dan Resort Teluk Terima.

"Proses habituasi untuk meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap habitat alaminya dan diperiksa secara rutin kesehatannya," ujarnya.


Ia menjelaskan, pemulihan populasi satwa endemik tersebut berhasil dilakukan melalui kegiatan pengembangbiakan baik di suaka satwa maupun penangkaran. Burung ini memiliki ukuran tubuh agak besar dan panjang tubuh dari kepala sampai ekornya bisa mencapai 25 cm.

"Burung jalak Bali ini hanya terdapat di Pulau Bali," jelasnya.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengungkap pemulihan populasi curik Bali di Taman Nasional Bali Barat sudah ada sebanyak 452 ekor per April 2022. Ia menambahkan, curik Bali merupakan bagian penting dari rantai makanan dan ekosistem. Oleh karena itu, pemulihan populasi curik Bali perlu terus menerus diupayakan baik oleh pemerintah daerah, desa adat, pihak swasta, dan lainnya.

"Saat ini Curik Bali tidak hanya terpantau tersebar di kawasan Taman Nasional Bali Barat, namun juga dapat dijumpai dalam kelompok-kelompok yang menetap atau mencari makan dan bermain di areal Hutan Produksi Terbatas (HPT) yang berbatasan langsung dengan kawasan TNBB. Juga di pekarangan rumah desa adat atau masyarakat sekitarnya," jelasnya.

Siti menambahkan, wilayah konservasi menjadi garda terakhir dalam upaya pelestarian sumber daya alam Indonesia, termasuk salah satunya satwa curik Bali yang dilindungi ini.

"Kalau saya bilang dia merupakan garis pertahanan paling belakang dari kelestarian sumber daya alam Indonesia itu yang harus betul-betul kita jaga. Karena sumber daya di dalamnya kan juga banyak. Sesuai dengan tema HKAN 2022, Amertha Taksu Abhinaya, yang berarti memulihkan alam untuk masyarakat sejahtera," pungkasnya.

(iws/iws)