Forum Angkatan Laut ASEAN di Bali, Bahas Keamanan Kawasan-Aktivitas Ilegal

Forum Angkatan Laut ASEAN di Bali, Bahas Keamanan Kawasan-Aktivitas Ilegal

Tim detikBali - detikBali
Selasa, 23 Agu 2022 10:07 WIB
Pertemuan tentara angkatan laut se-Asean dalam 16th ANCM di salah satu hotel di Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali.
Foto: Pertemuan tentara angkatan laut se-Asean dalam 16th ANCM di salah satu hotel di Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. (I Wayan Sui Suadnyana/detikBali)
Bali -

Para tentara angkatan laut dari negara-negara yang tergabung dalam forum Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) mengadakan pertemuan di Bali. Mereka mendiskusikan sejumlah hal, seperti keamanan kawasan Indo-Pasifik dan Laut China Selatan.

Pertemuan digelar dalam agenda 16th Asean Navy Chief Meeting (ANCM) di Kuta Selatan, Badung, Bali, Senin (22/8/2022). Delegasi Indonesia Dipimpin oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL).

"Tentunya dalam kegiatan ANCM pada seluruh kepala staf angkatan laut ini juga membahas tentang kesejahteraan dan keamanan kawasan Indo-Pasifik, khususnya kawasan Asia tenggara," kata Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono kepada wartawan usai pertemuan.


Yudo berharap, pertemuan yang intens dapat memudahkan koordinasi antar-angkatan laut se-ASEAN. Yudo pun mengajak angkatan laut se-ASEAN melaksanakan berbagai latihan maupun patroli terkoordinasi, khususnya di beberapa perbatasan Indonesia dengan negara-negara ASEAN.

"Semuanya sepakat untuk menjaga stabilitas kawasan di laut kita, khususnya negara ASEAN," jelas alumni Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan 1988 itu.

Yudo menjelaskan, TNI Angkatan Laut (AL) Indonesia kini menjadi tuan rumah dalam pertemuan 16th ANCM. Pertemuan tahun ini sekaligus menjadi pertemuan tatap muka pertama setelah dua tahun, yakni ANCM ke-14 dan ke-15, digelar lewat dalam jaringan (daring) atau online.

Menurut Yudo, pertemuan 16th ANCM kali ini juga selaras dengan rencana Indonesia yang bakal menjadi Ketua ASEAN pada 2023 mendatang.

"Pertemuan ANCM ini ini juga selaras dengan nantinya Indonesia akan menjadi Ketua ASEAN pada tahun 2023 sehingga pelaksanaan chief meeting pada hari ini juga selaras Indonesia menjadi itu," ungkap perwira tinggi TNI-AL bintang empat itu.

Selain Kawasan Indo-Pasifik, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono mengatakan, isu keamanan di Laut China Selatan juga dibahas dalam forum karena bersinggungan dengan beberapa negara anggota Asean.

"Ya pastinya (dibahas soal keamanan Laut China Selatan). Tadi sudah dibahas juga tentang keamanan, khususnya di laut China Selatan karena di sana juga berbatasan dengan Malaysia, Brunei (Darrusalam), Indonesia dan Vietnam," kata Yudo Margono.

Yudo mengatakan, angkatan laut se-ASEAN pastinya bersepakat untuk menjaga stabilitas keamanan di laut, khususnya di kawasan Laut China Selatan. Salah satu upaya yang dilakukan yakni dengan meningkatkan jalur diplomasi.

"Tentunya dengan diplomasi, meningkatkan diplomasi dengan kegiatan-kegiatan mungkin dengan latihan bersama, itu juga wujud dari kita sepakat untuk menjaga stabilitas kawasan di laut khususnya di Laut China Selatan," jelasnya.

Yudo mengungkapkan, pihaknya selalu menempatkan sebanyak empat kapal dalam menjaga stabilitas keamanan di Laut China Selatan. Namun perwira tinggi TNI-AL bintang empat itu tak menyebutkan kapal apa saja yang ditempatkan di kawasan tersebut.

"Bagi saya sendiri tentunya tetap menjaga stabilitas kawasan di laut China Selatan yang selalu saya tempatkan empat kapal untuk menjaga kedaulatan kita di laut China Selatan," ungkapnya.

Pantau Bersama Aktivitas Ilegal

KSAL juga mengajak negara tetangga turut melakukan pemantauan di tiga batas perairan RI. Sebab, tiga batas wilayah laut RI dengan negara tetangga kerap terjadi aktivitas ilegal.

Adapun ketiga batas laut tersebut yakni Selat Malaka sebagai perbatasan dengan Malaysia, Selat Singapura yang berbatasan dengan Singapura dan Laut Sulu yang merupakan perbatasan dengan Philipina.

"Tentunya di daerah perbatasan ini kan banyak kerawanan-kerawanan kegiatan ilegal yang seperti kita lihat di Selat Malaka, Selat Singapura, Laut Sulu," ujar Yudo Margono.

Ia mengajak para tetangga yakni Malaysia, Singapura, Philipina, juga termasuk Thailand untuk melakukan patroli terkoordinasi.

"Nah ini juga menjadi pembahasan kita tadi (saat pertemuan ANCM), tentunya kita dan bagi negara berbatasan sekarang ini sudah kita lakukan patroli terkoordinasi baik dengan Thailand, dengan Malaysia, dengan Singapura nanti akan dibuka kembali, kemudian dengan Philipina kita sudah melaksanakan patroli terkoordinasi. Ini untuk menjaga khususnya di perairan-perairan perbatasan terhadap kegiatan-kegiatan ilegal," jelasnya.

Adapun jenis aktivitas ilegal yang biasanya dilakukan di perairan perbatasan yakni penyelundupan narkoba, pemberangkatan pekerja migran Indonesia (PMI) tak sesuai prosedur hingga pengiriman benih lobster dan minuman keras.

"Itu yang kemarin pernah tangkap ada penyelundupan narkoba, kemudian yang kemarin imigran ilegal PMI yang hampir setiap minggu kita selalu mendapatkan itu. Nah ini kalau kita juga patroli dan saling koordinasi ya ini untuk menggagalkan itu jangan sampai terjadi seperti itu," terang Yudo.

"Terus baby lobster, minuman keras yang kemarin juga ditangkap. Hal-hal seperti itu, nah kalau ini tidak ada kerja sama dengan mereka ya kita capek sendiri tentunya kalau tidak kerjasama dengan mereka," imbuhnya.

Yudo menjelaskan, dalam melakukan patroli terkoordinasi ini nantinya ada kesepakatan dalam meeting awal. Namun hingga saat ini, pihaknya bersepakat untuk menggerakkan dua kapal patroli dari Indonesia dengan Malaysia.



Simak Video "Laksamana Yudo Soal Calon Pengganti KSAL: Berpangkat Bintang 3"
[Gambas:Video 20detik]
(kws/kws)