Kisah Hidup Veteran 102 Tahun di Legian, Pejuang Kemerdekaan!

Kisah Hidup Veteran 102 Tahun di Legian, Pejuang Kemerdekaan!

Triwidiyanti - detikBali
Minggu, 21 Agu 2022 22:55 WIB
Veteran pejuang I Wayan Rembijok berusia 102 tahun, di Legian, Badung, Bali, Minggu (21/8/2022).
Veteran pejuang I Wayan Rembijok berusia 102 tahun, di Legian, Badung, Bali, Minggu (21/8/2022). Foto: Triwidiyanti/detikBali
Badung -

Kisah hidup veteran pejuang kemerdekaan asal Legian, Badung, Bali, I Wayan Rembijok. Pria kelahiran Desember 1920 ini akan menginjak usia 102 tahun. Istrinya meninggal tahun 2012, Rembijok kini menikmati masa tua di rumah yang ditinggali sejak lahir di kawasan Legian.

Putra Rembijok, I Wayan Rembiyak menuturkan, ayahnya seorang veteran pangkat rendah. Ia terdata sebagai veteran pada masa presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Aktivitas Rembijok saat ini hanya di tempat tidur, karena sudah tidak mampu berjalan dan penglihatannya kabur. Ditemui di rumahnya, Rembijok hanya terdiam dan tidak banyak berbicara. Ia yang mengenakan topi pejuang kebanggaannya, hanya sesekali menyahut ketika ditanya.


Sementara itu, cucu Rembijok, Nengah Suadirsa mengungkapkan, kakeknya tidak fasih berbahasa Indonesia dan hanya bisa berbahasa Bali. Namun saat ditanya ia masih menjawab meski terbata-bata.

"Ayah saya kesehariannya tiduran, gak bisa ke mana-mana karena kakinya sudah tidak kuat berjalan, penglihatannya juga sudah kabur," ungkap Rembiyak didampingi putranya I Nengah Suadirsa, ditemui di kediaman Jalan Raya Legian Kaja Gang 469, Minggu (21/8/2022).

Rembiyak mengatakan, pemerintah memperhatikan kesehatan sang ayah dengan mendatangkan tim kesehatan dari Puskesmas. "Desa yang manggil, kami berharap ayah saya bisa berumur panjang," harapnya.

Ia menceritakan, sebelum ikut membela Indonesia, ayahnya bekerja sebagai petani "Awal mula terjun membantu para pejuang itu sebelum merdeka tahun 1940-an, bapak menjadi gerilyawan melawan penjajah Jepang (Nippon). Saat itu Jepang membuat lubang perlindungan yang panjang di Legian," tuturnya.

Saat itu Rembijok menolak bekerjasama dengan Jepang, sehingga bersembunyi di lubang perlindungan hingga pasukan sekutu (Amerika) datang dan melawan Jepang. Amerika lalu mengebom Jepang, dan Indonesia merdeka.

"Kurang lebih lima tahun bapak berjuang, dia juga ikut gerilya saat Gestapu itu, tahun 1960-an. Setelah merdeka, bapak jadi petani lagi hingga tahun 1997, karena lahan miliknya diambil pemerintah untuk dipakai jalan proyek LC," bebernya.

Rembijok mendapat surat pengesahan dari Menteri Urusan Veteran dan masuk daftar veteran pejuang RI 45 pada tahun 1962. Namun saat itu belum ada bantuan apapun dari pemerintah. Rembijok baru mendapat uang pensiun setelah Nengah Suadirsa mengurus ke Kementerian Pertahanan tahun 2003. Setiap menjelang HUT RI, Rembijok mendapatkan uang rapel dari Kementerian Pertahanan dengan besaran Rp 2,5 juta.

"Setelah terbit Surat Keputusan Pengakuan, Pengesahan, dan Penganugerahan Gelar Kehormatan Veteran Pejuang Kemerdekaan RI tahun 2003, barulah kakek saya mendapat uang pensiun. Kami dapat uang pensiun Rp 1,4 juta/bulan," ungkapnya.

Rembiyak berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada keluarga veteran lain, khususnya di wilayah Legian. "Istilahnya sembako untuk keluarga veteran, mungkin itu yang kami harapkan, memang dari pemerintah desa perhatian sudah bagus, tapi dari pusat kami hanya mendapat uang pensiun," ucapnya.

Menurutnya, masih banyak keluarga veteran pejuang 45 yang tidak mendapat perhatian, bahkan tidak mendapat uang pensiun lantaran sosok pejuangnya sudah meninggal. "Saya berharap agar dapat mereka mendapatkan uang pensiun juga," harapnya.

Rembijok menurunkan semangat perjuangan ke para penerusnya. "Ayah saya memberi pesan untuk generasi muda agar meneruskan semangat juang 45 untuk membangun negara dan bangsa RI," pungkas Rembiyak.



Simak Video "Hutama Karya Kembangkan Kompos dari Maggot di JTTS"
[Gambas:Video 20detik]
(irb/irb)