Pelaku Bom Bali Umar Patek Segera Bebas!

Tim detikNews, Tim detikJatim - detikBali
Jumat, 19 Agu 2022 19:09 WIB
Terdakwa kasus terorisme bom Bali 1 dan bom Natal Umar Patek memasuki usai menjalani sidang vonis di pengadilan Negeri Jakarta Barat, Kamis (21/6). Umar Patek di vonis 20 tahun penjara dan akan diberikan wakt untuk  banding selama tujuh hari. File/detikfoto.
Terdakwa kasus terorisme bom Bali 1. Foto: Jhoni Hutapea
Denpasar -

Narapidana kasus Bom Bali Umar Patek dikabarkan segera bebas usai mendapat remisi umum HUT RI ke-77 sebanyak 5 bulan. Umar Patek sebelumnya direncanakan bebas pada Januari 2023.

Artinya, Umar Patek berpeluang bebas bersyarat pada Agustus 2022 dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Surabaya di Porong (Lapas Porong), Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

"Selama di Lapas Porong mas Umar berperilaku sangat baik, dia juga sudah berikrar masuk NKRI, sehingga yang bersangkutan mendapatkan remisi. Total remisinya 33 bulan atau 120 hari. Sebenarnya dia sudah menjalani 2/3 masa tahanan, namun bebas bersyarat masih menunggu keputusan dari Kemenkumham Pusat," jelas Kakanwil Kemenkumham Jatim Zaeroji seperti dikutip detikJatim, Jumat (19/8/2022).


Australia Meradang

Dikutip detikNews, Pemimpin Australia kecewa atas keputusan Indonesia yang mengurangi hukuman penjara terpidana teroris, Umar Patek. Dia berperan sebagai pembuat bom dalam serangan teror Bali yang menewaskan 202 orang. Keputusan Pemerintah Indonesia ini berarti teroris dapat dibebaskan dalam beberapa hari jika dia diberikan pembebasan bersyarat.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengatakan dia telah diberitahu oleh pihak berwenang Indonesia bahwa hukuman Umar Patek telah dikurangi lima bulan lagi, sehingga total pengurangannya menjadi hampir dua tahun.

Itu berarti Patek bisa dibebaskan dengan pembebasan bersyarat menjelang peringatan 20 tahun pengeboman pada Oktober.

Putusan yang melukai warga Australia

Dalam komentarnya di Channel 9, Albanese menyebut pengurangan hukuman Umar Patek "akan menyebabkan penderitaan lebih lanjut bagi warga Australia yang merupakan keluarga korban bom Bali." Ia juga menambahkan "Kami kehilangan 88 nyawa warga Australia dalam pemboman itu."

Albanese mengatakan dia akan terus membuat "perwakilan diplomatik" ke Indonesia tentang hukuman Patek dan berbagai masalah lainnya, termasuk warga Australia yang saat ini dipenjara di Indonesia. Albanese menggambarkan Umar Patek sebagai seseorang yang "menjijikkan."

"Tindakannya adalah tindakan teroris," kata Albanese kepada Channel 9. "Mereka memang memiliki hasil yang mengerikan bagi keluarga Australia yang sedang berlangsung, trauma yang ada di sana." lanjutnya.

Pemerintah Indonesia sering memberikan pengurangan hukuman kepada narapidana pada hari-hari besar seperti Hari Kemerdekaan negara, yang jatuh pada 17 Agustus.

Patek menerima pengurangan 5 bulan pada Hari Kemerdekaan untuk perilaku yang baik dan bisa berjalan bebas bulan ini dari Lapas Porong di Jawa Timur jika dia mendapat pembebasan bersyarat.

Jejak Pidana Umar Patek

Umar Patek ditangkap di Pakistan pada 2011 dan diadili di Indonesia, di mana dia divonis pada 2012. Dia awalnya dijatuhi hukuman 20 tahun penjara.

Dengan masa hukumannya ditambah pengurangan hukuman, ia memenuhi syarat untuk pembebasan bersyarat pada 14 Agustus. Keputusan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia di Jakarta masih menunggu keputusan, kata Zaeroji. Jika pembebasan bersyarat ditolak, dia bisa tetap dipenjara hingga 2029.

Umar Patek adalah salah satu dari beberapa orang yang terlibat dalam serangan itu, yang secara luas dipersalahkan pada Jemaah Islamiyah, sebuah kelompok militan Asia Tenggara yang memiliki hubungan dengan al-Qaeda. Sebagian besar dari mereka yang tewas dalam pengeboman di pulau resor itu adalah turis asing.



Simak Video "PM Australia Kecewa Umar Patek Dapat Remisi Masa Tahanan"
[Gambas:Video 20detik]
(nor/nor)