Capai 22,9 Persen, Kasus Stunting di Karangasem Tertinggi di Bali

I Wayan Selamat Juniasa - detikBali
Jumat, 12 Agu 2022 14:19 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karangasem I Gusti Bagus Putra Pertama
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karangasem I Gusti Bagus Putra Pertama. Foto: I Wayan Selamat Juniasa
Karangasem -

Kasus stunting di Kabupaten Karangasem merupakan yang tertinggi di Bali. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 kasus stunting di Kabupaten Karangasem mencapai angka 22.9 persen. Itu artinya dari setiap 100 balita 23 di antaranya menderita stunting.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karangasem I Gusti Bagus Putra Pertama mengatakan sampai saat ini kasus stunting di Kabupaten Karangasem masih yang tertinggi di Bali. Tapi pihaknya mengaku sudah berupaya untuk melakukan segala hal untuk dapat menurunkan jumlah penderita stunting di Kabupaten Karangasem.

"Ini berdasarkan data dari SSGI pada tahun 2021. Angkanya sangat tinggi mencapai 22.9 persen. Sehingga berdasarkan hasil survei tersebut setiap 100 balita 23 diantaranya stunting," kata Putra Pertama, Jumat (12/8/2022).



Terkait dengan tingginya angka stunting di Kabupaten Karangasem, pihaknya mengaku sudah melakukan beberapa upaya agar angka stunting bisa turun dari tahun sebelumnya. Untuk di bidang kesehatan dengan melakukan intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif. Kemudian di tingkat pemerintahan daerah juga sudah ada Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) bahkan sampai tingkat desa juga sudah ada.

Putra Pertama menjelaskan intervensi gizi spesifik merupakan hal yang bersentuhan langsung dengan upaya pencegahan stunting mulai dari dalam kandungan sampai balita berusia 2 tahun. Atau yang dikenal dengan 1.000 hari pertama kehidupan.

"Jadi dari dalam kandungan kita sudah pastikan mendapat perawatan yang benar, kontrol minimal enam kali, mendapatkan tambah darah dan yang lainnya, kemudian melakukan persalinan di tenaga kesehatan sampai lahir bayinya harus mendapat imunisasi lengkap sampai usia dua tahun, mendapat ASI yang eksklusif, diberikan tambahan makanan sesuai dengan usianya," kata Putra Pertama.

Kemudian intervensi gizi sensitif merupakan hal untuk menurunkan stunting yang tidak bersentuhan secara langsung. Seperti memperbaiki saluran air minum, desa di dorong untuk ODF (open defecation free) atau stop buang air besar sembarangan. Sehingga kasus infeksi pada balita dapat berkurang, dengan itu jumlah stunting dapat dikurangi.

"Dengan beberapa upaya yang sudah kita lakukan tersebut, mudah-mudahan angka stunting di Kabupaten Karangasem dapat berkurang di tahun ini. Karena angkanya sangat tinggi. Kita akan berusaha untuk stunting di Kabupaten Karangasem lebih rendah dari standar WHO yaitu di bawah 20 persen," kata Putra Pertama.




Simak Video "Di Depan Jokowi, Gubsu Janji Tekan Stunting dari 24% Jadi 12%"
[Gambas:Video 20detik]
(nor/nor)