Rekaman CCTV Kasus Ferdy Sambo yang Disita Polisi Beredar

Tim detikNews - detikBali
Kamis, 11 Agu 2022 14:57 WIB
Bali -

Rekaman CCTV yang disita oleh penyidik Polda Metro Jaya terkait kasus tewasnya Brigadir Nofriasnyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J beredar. Polri pun membenarkan rekaman CCTV terkait dugaan pembunuhan dengan tersangka Irjen Ferdy Sambo itu merupakan rekaman yang disita oleh kepolisian.

"Tentunya CCTV yang sudah beredar ini, ini kan yang sudah disita oleh penyidik Polda Metro Jaya," kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Kamis (11/8/2022) seperti dikutip dari detikNews.

Dedi mengatakan ada beberapa dekoder CCTV dalam kasus dugaan pembunuhan yang menjerat Irjen Ferdy Sambo sebagai tersangka ini. Rekaman-rekaman itu dianalisis oleh Laboratorium Forensik.


"Jadi gini, saya sudah menanyakan ke Pak Kabareskrim untuk CCTV kan ada beberapa dekoder yang masih dilakukan analisis oleh laboratorium forensik," kata Dedi.

Dedi menambahkan, Labfor akan membuktikan secara digital dan ilmiah rekaman CCTV tersebut. Adapun seluruh hasil penyidikan akan dibuka di persidangan.

"Sama halnya, pendalaman laboratorium forensik untuk pembuktian secara digital secara ilmiah itu kan nanti akan disampaikan karena itu bagian daripada alat bukti dari proses penyidikan yang nanti juga akan dibuka di persidangan. Semuanya akan dibuka secara terang benderang di persidangan," tuturnya.

Komnas HAM Periksa 5 Rekaman CCTV

Sebelumnya, Komnas HAM juga sempat memeriksa data 5 rekaman CCTV terkait kasus kematian Brigadir J. Pemeriksaan CCTV tersebut dilakukan saat memeriksa uji balistik dari tim Puslabfor Mabes Polri dalam kasus Brigadir J.

"Yang pertama soal DVR (digital video recorder) kaitannya dengan rekaman CCTV jadi ada lima DVR tadi yang disampaikan infonya, datanya, ke Komnas HAM," kata Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara, Rabu (10/8/2022) dikutip dari detikNews.

Komisioner Komnas HAM Choirul Anam menambahkan rekaman tersebut sudah diminta sebelumnya oleh Komnas HAM. Anam menyebut Tim Puslabfor Mabes Polri sudah merinci terkait rekaman tersebut, termasuk dari CCTV yang rusak.

"Kan DVR ini sebelumnya sudah kami minta ketika digital forensic pertama kali datang ke Komnas HAM terus memang minta waktu untuk melakukan uji forensiknya. Tadi kami diberikan hasilnya, kami diberikan hasilnya kalau ada pertanyaan apakah itu rusak, tidak rusak, kenapa rusak, atau apapun kondisinya tadi kami dikasih tahu," kata Anam.

"Jadi hasil dari labfor mereka, kita diberitahu metodenya apa, yang rusak apa, kalau ada yang rusak, kami dikasih cukup detil. Itu juga kami, bagaimana mereka melakukan proses terhadap DVR," imbuhnya.

Anam menyebut pihaknya sudah mengantongi hasil dari lima rekaman CCTV tersebut. Data CCTV itu akan disampaikan saat penyampaian kesimpulan.

"Seperti yang waktu itu kami sampaikan ada DVR lima. Sekarang sedang diproses, hasilnya sudah disampaikan kepada kami, nanti kami akan umumkan di kesimpulan kami," imbuhnya.

Seperti diketahui, Brigadir J tewas di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo, Kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat (8/7/2022). Brigadir J awalnya disebut tewas akibat baku tembak dengan Bharada Eliezer atau Bharada E.

Setelah proses penyidikan berjalan, Kapolri Jenderal Sigit mengumumkan Ferdy Sambo menjadi tersangka kasus pembunuhan Brigadir J. Ferdy Sambo disebut menjadi dalang penembakan dan merekayasa kasus tersebut. Selain Irjen Ferdy Sambo, Polri juga menetapkan Kuat Ma'ruf, Bharada E atau Richard Eliezer dan Brigadir RR atau Brigadir Ricky Rizal sebagai tersangka.

(iws/iws)