Kisah Inspiratif

Kisah Barista Perempuan di Tabanan, dari Akuntansi Kini Meracik Kopi

Chairul Amri Simabur - detikBali
Sabtu, 16 Jul 2022 00:20 WIB
Dewi Syawal Sari, barista perempuan di Dadi Incore Coffee saat meramu kopi yang dipesan pengunjung, Jumat (15/7/2022)
Dewi Syawal Sari, barista perempuan di Dadi Incore Coffee saat meramu kopi yang dipesan pengunjung, Jumat (15/7/2022). Foto: Chairul Amri Simabur
Tabanan -

Peracik kopi atau barista sejauh ini mungkin masih didominasi kaum pria. Tapi sejalan dengan tren ngopi yang terus berkembang, keberadaan barista perempuan juga bermunculan.

Semisal Ni Made Dewi Syawal Sari (22), barista Dadi Incore Coffee, di Jalan Jepun II, Banjar Tegal Belodan, Desa Dauh Peken, Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan.

Kesukaannya meneguk kopi plus rasa ingin tahu yang tinggi membuat Dewi Syawal Sari melompat jauh dari akuntansi, bidang yang semula ditekuninya, kini memilih menjadi seorang barista.


"Awalnya karena suka ngopi. Sama kepo (ingin tahu) soal kopi," kata Dewi Syawal Sari saat dijumpai pada Jumat (15/7/2022).

Gadis dari Desa Bantiran, Kecamatan Pupuan, ini membekali diri dengan urusan perkopian dengan mengikuti pelatihan sebagai barista di awal 2022 ini.

"Latihannya di BLK (Balai Latihan Kerja) Meliling," ujarnya menunjuk tempat pelatihan kerja yang ada di Kecamatan Kerambitan itu.

Sebelum menjadi barista di tempatnya sekarang, Dewi Syawal Sari juga mengaku sudah sempat bekerja di beberapa bidang.

Selepas dari SMK Negeri 1 Tabanan pada jurusan akuntansi, ia sempat bekerja setahun di kantor notaris.

Tidak lama kemudian, pandemi COVID-19 membuatnya undur diri dari kantor notaris. Ia juga sempat menjadi pramuniaga di salah satu toko modern berjejaring, tapi hanya bertahan sebulan.

"Waktu itu masih pandemi. Jadi susah cari pekerjaan," tutur anak keenam dari tujuh bersaudara pasangan suami istri, I Wayan Subaja dan Ni Nyoman Suwitri ini.

Meracik Kopi dari Pelatihan Barista

Di saat lagi menganggur, seperti anak muda lainnya ia berselancar di media sosial dan melihat coffee shop atau kedai kopi bermunculan di sana-sini. Termasuk di Tabanan.

"Iseng lihat-lihat di Instagram ternyata ada pelatihan. Saya coba ikut pelatihan itu. Tapi harus seleksi dulu," ungkapnya.

Singkat cerita, ia bersama 15 orang lainnya lolos seleksi dalam satu angkatan pelatihan di awal tahun ini. Dari 16 orang yang lolos itu, tiga di antaranya perempuan.

"Saya nggak tahu berapa yang ikut seleksi waktu itu. Yang lolos sekitar 16 orang. Tiga di antaranya perempuan termasuk saya salah satunya," katanya.

Lolos dari seleksi, ia pun mulai mengikuti pelatihan selama sebulan sampai mendapatkan sertifikasi.

"Mulai dari belajar jenis-jenis kopi. Single origin (kopi) yang ada di Indonesia seperti Gayo, Pupuan, Kintamani, Toraja, dan banyak jenis single origin lainnya," ujarnya sedikit mengulas dasar-dasar pelatihan yang ia dapatkan.

Selanjutnya, ia menjalani pelatihan meracik kopi mulai Latte, Long Black, Americano, dan beberapa penyajian kopi lainnya.

"Yang rumit, untuk saya ya, buat Latte. Karena harus mengetahui dasar Espreso. Mencari takaran dan rasa yang pas. Terus harus terampil saat melakukan steam susu. Serta yang terakhir melukis di atas Latte," bebernya.

Ia mengaku, untuk saat ini menikmati pekerjaan sebagai barista. Kesempatannya bekerja di tempat sekarang ia pakai untuk mengasah keterampilan yang didapatkan saat pelatihan.

"Awalnya memang canggung. Tapi karena sudah ikut pelatihan, lama-lama biasa saja. Lagian orang tua juga mendukung," pungkasnya.



Simak Video "Seni Mengaduk Botol Para Bartender Professional, Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(nor/nor)