Nelayan di Pantai Kelan Libur Melaut karena Cuaca-Biaya Mahal

Triwidiyanti - detikBali
Rabu, 29 Jun 2022 15:34 WIB
I Made Sanu (44), nelayan tradisional di Pantai Kelan, Kelurahan Tuban, Kuta, Badung, Bali, Rabu (29/6/2022).
I Made Sanu (44), nelayan tradisional di Pantai Kelan, Kelurahan Tuban, Kuta, Badung, Bali, Rabu (29/6/2022). Foto: Triwidiyanti/detikBali
Badung -

Nelayan di Pantai Kelan, Badung, Bali, I Made Sanu (44), memutuskan libur melaut karena faktor cuaca hingga mahalnya biaya operasional.

Gelombang tinggi dan angin kencang, menyebabkan nelayan yang tinggal di Banjar Kelan Abian, Kelurahan Tuban, Kuta, ini tak mau mengambil risiko. Keterbatasan biaya operasional juga menjadi salah satu alasannya libur melaut.

Biaya operasional yang dimaksud Made Sanu, yaitu biaya sewa jukung dan bensin sekali jalan melaut. Ia terpaksa harus menyewa ke nelayan lain karena tidak memiliki jukung sendiri. Karena biaya yang ditanggung sangat tinggi, ia mengaku sudah lima bulan tidak melaut ke tengah. Sedangkan dua minggu lebih ini dia tidak melaut di pinggiran karena banyak kegiatan upacara.


"Ya biaya operasional tinggi, kalau saya memang sudah gak punya jukung, dulu saya punya perahu mesin tapi dijual karena tidak ada yang menyewa. Biaya operasional tinggi, misal mesin tempel 1 PK itu bisa habis bensin Rp 300 ribu, sekali jalan bisa Rp 500 ribu lah," ungkap pria yang sudah menjadi nelayan tradisonal sejak kecil ini, kepada detikBali, Rabu (29/6/2022).

Diceritakan Made Sanu, untuk menutup biaya operasional, ia biasanya meminjam uang ke pengepul untuk membeli bahan bakar, namun utang ini, menurutnya justru menambah beban. "Ya biasanya saya gitu, ambil dulu, pinjam lah katakan Rp 500 ribu, nanti dipotong dari hasil ikan tangkapan saya. Ya jalani saja, syukuri meski hasilnya kecil disyukuri," pungkasnya.

Dikatakannya, beberapa nelayan di Pantai Laut sudah mulai melaut usai lama libur. Cuaca pun diakuinya akhir-akhir ini bersahabat. Namun, ia sendiri belum tahu kapan akan kembali melaut.

"Kalau lihat cuaca sekarang bagus, semalam ini teman-teman (nelayan) saya baru pada turun lagi, sebelumnya mereka gak melaut juga, kalau saya belum tahu, masih belum bisa melaut," katanya.

Sementara itu, Koordinator Bidang Data dan Informasi Balai Besar Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar, Bali, I Nyoman Gede Wiryajaya mengimbau nelayan untuk selalu update informasi cuaca ekstrem dan gelombang tinggi. Meski wilayah Bali memasuki musim kemarau, namun potensi gelombang tinggi diprediksi 2-4 meter dengan kecepatan angin rata-rata 19-21 knot.

"Kalau 25 knot itu sudah ekstrem banget, tapi kita belum lah," tuturnya.



Simak Video "Menikmati Sunset Sembari Lihat Pesawat Mendarat di Pantai Kelan Tuban"
[Gambas:Video 20detik]
(irb/irb)