Pengalaman kesulitan membayar biaya les bahasa asing mendorong Gede Arlan Indrayana membuka kelas bahasa Mandarin gratis bagi anak-anak di Buleleng, Bali. Melalui Arlan Academy, ia ingin membekali siswa dengan kemampuan bahasa asing sekaligus membuka peluang melanjutkan pendidikan ke China.
Arlan mengaku pernah merasakan keterbatasan akses belajar bahasa asing. Kesempatan kuliah di Xiamen University, China, melalui beasiswa kemudian membuka jalan baginya untuk memperoleh pengalaman yang kini ingin dibagikan kepada siswa di Buleleng.
Gagasan membuka kelas Mandarin bermula saat Arlan menjalani magang di SMA Negeri 1 Singaraja pada 2023. Saat itu, ia menemukan sejumlah siswa yang tertarik melanjutkan pendidikan ke China. Di sela kegiatan magang, Arlan mengajari mereka bahasa Mandarin di perpustakaan sekolah.
Kegiatan tersebut awalnya bernama Pembelajar Bahasa Mandarin. Seiring waktu, program itu berkembang setelah sejumlah siswa yang dibimbing Arlan berhasil melanjutkan pendidikan ke China.
"Yang pertama sasarannya adalah anak-anak SMA yang punya peluang juga untuk melanjutkan studi ke China. Bagaimana cara daftar beasiswa, itu pernah saya lewati. Jadi saya ingin sharing," kata Arlan, Sabtu (5/9/2026).
Setelah berkembang menjadi Arlan Academy, sejumlah siswa yang pernah dibimbingnya berhasil diterima di perguruan tinggi di China. Dua di antaranya diterima di Hainan University.
"Yang saya ajari di perpustakaan itu di Hainan juga ada beberapa, kalau nggak salah tiga orang. Yang saya ajari di kelas juga beberapa. Tapi saya tidak bisa mengakui itu didikan saya murni. Di tahun sekarang, anak SMA 1 juga ada tiga yang pernah saya didik, tapi yang saya tembuskan satu, dua lainnya usaha sendiri. Setelah itu ada dari Jakarta yang kuliah di Shenzhen," jelasnya.
Kini, Arlan Academy mengembangkan kelas dalam kelompok kecil dengan target 10 hingga 15 peserta di setiap kecamatan. Menurut Arlan, jumlah tersebut membuat proses pembelajaran lebih efektif dan memudahkannya memberikan pendampingan secara langsung.
Kelas bahasa Mandarin gratis saat ini telah berjalan di tiga kecamatan. Salah satunya berlangsung di Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, dengan peserta yang sebagian berasal dari SMK Negeri 1 Sawan.
Arlan juga berencana mengembangkan kelas serupa bagi siswa SMK Negeri 1 Kubutambahan, terutama karena banyak siswa mengambil jurusan yang berkaitan dengan pariwisata.
"Kelas gratis itu 10 sampai 15 orang. Kalau lebih dari itu kami susah kontrol. Jadi memang target gratis kami di angka 10 sampai 15 orang per kecamatan," ujarnya.
Selain kelas gratis, Arlan juga membuka pembelajaran privat berbayar bagi peserta yang menginginkan pendampingan lebih intensif. Biaya tersebut, kata dia, digunakan untuk mendukung kebutuhan operasional seperti waktu, transportasi, dan akomodasi. Untuk saat ini, seluruh kelas tersebut masih diajar langsung oleh Arlan.
Arlan mengaku tidak menganggap proses mengajar sebagai beban. Justru, ia merasa mendapat pengalaman baru ketika berinteraksi dengan siswa yang lebih muda.
"Kalau tantangan utama sih tidak ada karena saya enjoy melakukan ini. Ketemu teman yang lebih muda saya juga dapat pembelajaran," katanya.
Menurutnya, tantangan lebih banyak berkaitan dengan waktu dan perjalanan menuju lokasi pembelajaran. Salah satunya perjalanan menuju Desa Bengkala yang membutuhkan waktu sekitar 40 menit, ditambah durasi mengajar sekitar satu setengah jam.
"Bagaimana bisa menghemat waktu. Ketika online pun susah handle efektivitasnya. Seandainya ada siswa kita yang lulus, kita ingin buat ekosistemnya lebih gede," ujarnya.
Arlan menilai kemampuan bahasa Mandarin tidak hanya bermanfaat untuk melanjutkan pendidikan, tetapi juga dapat menjadi bekal memasuki dunia kerja. Ia melihat peluang ekonomi di Buleleng akan semakin besar seiring perkembangan pariwisata, investasi, dan pembangunan infrastruktur.
"Ketika bandara ada, orang-orang Buleleng tidak hanya jadi tukang sapu, tukang pel, dan lain sebagainya. Bisa mungkin jadi translator dan lain-lain. Untuk menjadi guide juga penting untuk pengenalan budaya ataupun sejarah Buleleng," ujarnya.
Kemampuan bahasa Mandarin, kata Arlan, juga dapat membantu pelaku UMKM dan petani memperluas pasar produk lokal, seperti durian, manggis, dan kopi. Kemampuan berkomunikasi dengan calon pembeli dari China dinilai dapat membuka peluang pemasaran yang lebih luas.
Ke depan, Arlan Academy tidak hanya mengembangkan kelas Mandarin. Ia juga berencana membuka pembelajaran bahasa Inggris dengan melibatkan mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha).
Konsep pembelajaran akan diarahkan pada lingkungan bilingual yang nyaman sehingga peserta tidak takut melakukan kesalahan saat berlatih.
"Goals-nya adalah buat lingkungan berbahasa asing yang nyaman," katanya.
Arlan memilih memulai program tersebut dalam skala kecil sebelum memperluasnya ke seluruh Buleleng. Saat ini, ia mulai membentuk tim untuk mendokumentasikan kegiatan sekaligus mengumpulkan testimoni dari siswa yang pernah dibimbing.
"Sementara ini goals-nya adalah bagaimana orang-orang bisa dasar-dasar dulu, buat lingkungan belajar yang nyaman. Kecil," kata Arlan.
Simak Video "Yamaha NMAX: Saksi Perjuangan 3 Generasi"
(nor/nor)