Donald Trump Merasa Lebih Pantas Dapat Nobel Perdamaian Ketimbang Navi Pillay

Novi Christiastuti - detikSumut
Sabtu, 10 Okt 2026 11:34 WIB
Foto: REUTERS/Nathan Howard
M -

Presiden Amerika Serikat Donald Trump tak terima setelah hakim terkemuka asal Afrika Selatan (Afsel) yang mendapat Nobel Perdamaian 2026. Trump merasa dirinya lah yang lebih pantas mendapatkan Nobel Perdamaian itu.

"Saya tidak pernah mendengar tentang orang itu. Tidak ada seorang pun yang mengenalnya," kata Trump dalam kampanye Partai Republik di Syracuse, New York, seperti dilansir detikNews dari AFP dan Reuters, Sabtu (10/10/2026).

Pillay memiliki rekam jejak luar biasa dalam bidang hukum, terutama hukum internasional, karena kiprahnya dalam mengadili kasus kejahatan perang, kejahatan kemanusiaan, hingga genosida. Baru-baru ini, Pillay memimpin komisi khusus PBB yang menyelidiki dan menyimpulkan genosida telah terjadi di Jalur Gaza.

Trump menyebut Pilay sebagai "sosok misterius" dan mengatakan bahwa dirinya "tidak pernah mendengar" soal hakim asal Afsel tersebut.

Menurut Trump, penghargaan Nobel Perdamaian seharusnya diberikan kepada "Amerika Serikat, yang diwakili oleh saya sebagai presiden Anda".

Sepanjang masa kepresidenannya, Trump kerap mengungkapkan kekecewaan karena gagal meraih penghargaan tersebut.

Dia menyebut keputusan Komite Nobel untuk memberikan penghargaan bergengsi itu kepada Pillay sebagai keputusan yang memalukan dan mencoreng nama Norwegia, negara yang menjadi lokasi markas utama Komite Nobel.

"Ini adalah noda yang tak terhapuskan bagi negara Norwegia dan orang-orang yang mengambil keputusan yang begitu tercela dan memalukan itu," sebutnya.

Presiden AS itu menyebutkan sejumlah konflik yang, menurutnya, telah dia bantu selesaikan. Trump mengklaim bahwa dirinya telah mencegah perang antara Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel), antara Jepang dan Korut, juga antara China dan Taiwan, namun tanpa menyertakan bukti untuk mendukung klaimnya itu.

"Penghargaan Nobel Perdamaian telah kehilangan kredibilitas selamanya, akibat ulah segelintir penganut ideologi radikal yang antidemokrasi dan sejatinya merupakan musuh peradaban. Dan kita tidak akan melupakan hal ini, Norwegia," tandasnya.

Kekesalan Trump itu disampaikan hanya beberapa jam setelah Komite Nobel mengumumkan Pillay sebagai peraih Nobel Perdamaian tahun ini.



Simak Video "Video Terpopuler Sepekan: AS-Iran Perang Lagi, Piala Dunia Terakhir Ronaldo"

(astj/astj)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork