Kenangan PSMS Medan Vs Persija pada HUT Ke-10 RI, 67 Tahun Silam

Datuk Haris Molana - detikSumut
Rabu, 17 Agu 2022 17:06 WIB
PSMS Medan Vs Persija, 17 Agustus 1955.
PSMS Medan Vs Persija, 17 Agustus 1955. (Foto: Istimewa)
Medan -

Perseteruan PSMS Medan dengan Persija Jakarta menjadi catatan tersendiri dalam sejarah sepakbola tanah air. Dua klub raksasa ini bukan hanya bersaing di dalam lapangan, tetapi juga merembet sampai ke luar lapangan.

Ada satu momen bersejarah kedua klub papan atas Indonesia waktu itu, berlaga tepat pada HUT ke-10 RI pada 1955 silam. PSMS Medan menghibur bangsa Indonesia melawan Persija Jakarta di Stadion Teladan, Medan.

Pemerhati Sepakbola Sumatera Utara (Sumut), Indra Efendi Rangkuti mengatakan momen PSMS berlaga dengan Persija di Hari Kemerdekaan berawal saat keduanya bertemu di final Kejurnas/Divisi Utama Perserikatan PSSI pada 26 Desember 1954. Pada saat itu, antara Persija melawan PSMS menyisakan kejadian yang tidak mengenakkan.


"Saat itu, PSMS mundur sebelum pertandingan akibat protes kepada kepemimpinan wasit Van Yperen yang dianggap berpihak kepada Persija. Keributan antar pemain pun sempat terjadi," kata Indra, Rabu (17/8/2022).

Indra menyebut, Persija sendiri memaklumi protes yang diajukan oleh PSMS Medan. Apalagi manajer PSMS Muslim Harahap tidak menyalahkan Persija atas terjadinya insiden tersebut.

Selanjutnya, Persija menawarkan untuk diadakan pertandingan "revanche" kepada PSMS sekaligus untuk memupuk kebersamaan antara pemain PSMS dan Persija yang merupakan pilar- pilar utama Timnas waktu itu.

"Tawaran itu disambut baik oleh PSMS dan disepakati pertandingan PSMS Vs Persija berlangsung di Stadion Teladan Medan pada 17 Agustus 1955," ujar Indra.

Indra menyebut pertandingan itu dibuat untuk memeriahkan Lustrum I PSMS yang diputuskan diadakan pada Agustus 1955 sekaligus untuk memeriahkan peringatan 10 Tahun Kemerdekaan RI.

Pertandingan ini sendiri dipimpin oleh wasit asal Birma (Myanmar) yaitu Paul Then. Sebelum pertandingan dimulai, diadakanlah semacam "Guard of Honour" untuk menghormati PSMS yang sedang merayakan Lustrumnya.

Di mana Kapten PSMS Ramlan Yatim dan Kapten Persija Djamiat Dhalhar masuk lapangan mendapat kalungan bunga diiringi para pemain PSMS, sedangkan Persija berdiri di kiri dan di kanan sambil memberikan buket bunga kepada seluruh pemain PSMS dalam suasana yang hangat dan penuh rasa persahabatan.

"Tradisi Guard of Honour ini sendiri pertama kali diterapkan dalam pertandingan sepakbola Indonesia sesudah Indonesia Merdeka," tutur Indra.

PSMS Medan Vs Persija, 17 Agustus 1955.PSMS Medan Vs Persija, 17 Agustus 1955. Foto: Istimewa

Pada pertandingan ini PSMS Medan menurunkan pemain : Manan (GK), M.Rasijd, Buyung Bachrum, Cornel Siahaan, Idris, Ramlan Yatim, Syamsuddin, Anwar Daulay, Ahmad Kadir, Yusuf Siregar dan Ramli Yatim.

Sementara Persija menurunkan Davies (GK), Saelan, Thio Him Tjiang, Van Den Berg, Kwee Kiat Sek, Imaan, Suganda, Wim Piers, Djamiat Dhalhaar, Tan Liong How dan Hamdani.

Menurut Indra, pertandingan yang dipimpin wasit Paul Then berlangsung menarik dan penuh dengan peragaan teknik bermain yang indah yang diperagakan kedua kubu.

"Beberapa wartawan menilai pertandingan kedua tim ini lebih baik dari Final Kejurnas PSSI 1954 dan yang terbaik di Indonesia pada masa tersebut. Walau diwarnai tackling keras tapi dalam suasana yang sportif dan fair play," ujar Indra.

Serangan sporadis PSMS Medan yang dimotori oleh Ramlan Yatim berulangkali mampu membongkar pertahanan Persija yang digalang Kwee Kiat Seek dan Thio Him Tjiang. Demikian juga serangan gencar dari Djamiat Dhalhar, Tan Liong How dan Van Den Berg cukup merepotkan lini pertahanan PSMS yang digalang oleh M. Rasijd, Buyung Bachrum dan Cornel Siahaan.

Benar-benar atraksi jual beli serangan dengan teknik tinggi dan menawan yang membuat penonton berulang kali memberikan aplaus untuk kedua tim.

PSMS sendiri memenangkan pertandingan ini dengan skor 6-3. Usai pertandingan pemain dari kedua kubu beserta ofisial berangkulan dengan penuh keakraban dan tak terlihat rasa permusuhan akibat "Insiden Ikada" 26 Desember 1954.

Para pemain kedua klub juga bergandengan tangan bersama memberi hormat dan apresiasi kepada seluruh penonton yang disambut dengan tepuk tangan meriah dan aplaus dari seluruh penonton.

"Sungguh suatu momen indah Sepakbola Indonesia di Momen HUT RI ke-10 di mana 2 klub terbaik Indonesia memberikan atraksi terbaiknya bagi persepakbolaan Indonesia," sebut Indra.



Simak Video "Kala Gema Azan Berkumandang di JIS"
[Gambas:Video 20detik]
(dhm/dpw)