Makanan modern dan tren kuliner masa kini membuat jajanan Nusantara di Kota Medan sedikit terlupakan. Salah satu kuliner tradisional yang mulai terlupakan yakni Putu Bambu.
Pedagang Putu Bambu di Kota Medan pun kini semakin sulit ditemukan. Kondisi ini tidak terlepas karena semakin menjamurnya jajanan modern.
Pedagang Putu Bambu, Arif, pun mengakui sudah banyak pedagang seperti dirinya yang tidak berjualan lagi. Menurutnya, perubahan pola hidup masyarakat yang cenderung memilih makanan praktis dan kekinian menjadi salah satu faktor utama berkurangnya minat terhadap jajanan tradisional ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang sudah jarang yang mencari putu bambu. Anak-anak lebih tertarik dengan jajanan modern. Padahal dulu setiap saya lewat, pembeli langsung ramai," ujar Arif di Medan, Rabu (8/4/2026).
Ia menyebut rasa jajanan tradisional ini tidak kalah dengan makanan modern saat ini. Karena itu dia yakin Putu Bambu masih bisa bangkit.
Dukungan terhadap pelaku UMKM, promosi kuliner tradisional, serta inovasi dalam penyajian dinilai dapat menjadi upaya untuk menjaga keberlangsungannya di tengah perkembangan zaman.
"Putu bambu merupakan kue tradisional yang terbuat dari tepung beras dengan isi gula merah, dimasak menggunakan cetakan bambu, lalu disajikan bersama taburan kelapa parut," turunya.
Arif menjelaskan, Keunikannya tidak hanya pada cita rasa manis dan teksturnya yang lembut, tetapi juga pada suara khas dari uap kukusan yang kerap menjadi tanda hadirnya penjual, terutama pada sore hingga malam hari.
Namun kini, keberadaannya mulai memudar. Di sejumlah daerah, termasuk Medan, pedagang putu bambu kian jarang terlihat.
(astj/astj)











































