Memasuki bulan suci Ramadan, berbagai hidangan khas mulai bermunculan untuk menemani waktu berbuka puasa. Salah satu makanan tradisional yang tetap menjadi favorit masyarakat adalah lemang, kuliner berbahan dasar beras ketan yang dimasak dalam bambu dan dibakar menggunakan api kayu.
Di Kota Medan, penjual lemang musiman maupun langganan tahunan mulai ramai diserbu pembeli sejak sore hari. Aroma khas santan dan daun pisang yang terbakar menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang ingin menikmati menu berbuka bernuansa tradisional.
Salah satu penjual lemang, Rahmat, mengatakan permintaan lemang meningkat signifikan selama Ramadan dibandingkan hari biasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau Ramadan, pembeli bisa dua sampai tiga kali lipat. Banyak yang mencari lemang untuk buka puasa karena rasanya gurih dan mengenyangkan," ujar Rahmat saat ditemui di lokasi,Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, proses pembuatan lemang membutuhkan waktu cukup lama. Beras ketan terlebih dahulu direndam, kemudian dimasukkan ke dalam bambu yang dilapisi daun pisang bersama santan dan sedikit garam sebelum dibakar selama beberapa jam.
Tidak hanya menjadi makanan pembuka puasa, lemang juga sering disajikan bersama lauk pendamping seperti rendang, serundeng, maupun tapai ketan.
Seorang pembeli, Aisyah, mengaku hampir setiap Ramadan selalu membeli lemang untuk berbuka bersama keluarga.
"Lemang itu sudah seperti menu wajib. Rasanya khas dan mengingatkan suasana Ramadan zaman dulu," katanya.
Selain dijual di pasar tradisional, lemang kini juga mulai dipasarkan secara daring untuk menjangkau pembeli lebih luas. Meski demikian, banyak masyarakat tetap memilih membeli langsung karena ingin menikmati lemang yang masih hangat dari proses pembakaran.
Ramadan pun menjadi momentum bagi pelaku usaha kuliner tradisional untuk meningkatkan pendapatan sekaligus melestarikan makanan khas daerah agar tetap dikenal generasi muda.
Artikel ditulis Olivia Andrea, peserta maganghub Kemnaker di detikcom
(astj/astj)











































