Guru Pesantren Paksa Santri Seks Oral, MUI: Jangan Lindungi Pelaku

Farid Achyadi Siregar - detikSumut
Sabtu, 30 Jul 2022 13:30 WIB
Ilustrasi Pencabulan Anak. Andhika Akbarayansyah/detikcom.
Ilustrasi. (Foto: Andhika Akbarayansyah)
Medan -

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak meminta aparat penegak hukum menindak tegas dan memberikan hukuman berat kepada IA (25), oknum guru pondok pesantren di Kabupaten Asahan yang memaksa muridnya melakukan seks oral. Dia juga meminta pihak pesantren tidak menutupi atau melindungi pelaku.

"Saya sudah sampaikan kepada ketua MUI di sana (untuk) mendatangi Kapolres. Dan kepada pesantren tidak boleh menutupi itu dan melindunginya. Proses hukum harus berjalan sesuai prosedur hukum. Nggak perlu ditutup-tutupi dan orang yang salah nggak perlu dilindungi," kata Maratua saat dikonfirmasi detiksumut, Sabtu (30/7/22).

Dia mengatakan, dengan perilaku seks seperti itu, oknum guru tersebut kemungkinan besar mengidap gangguan jiwa. Apalagi sampai hal keji tersebut dilakukan.


" Kemungkinan barangkali sudah kelainan jiwa dia itu," ucapnya.

Dia juga meminta agar peristiwa ini tak terlalu dibesar-besarkan yang justru membuat masyarakat jadi takut menitipkan anak mereka ke pesantren. Dia juga meminta masyarakat untuk bersabar menunggu hasil penanganan dari pihak kepolisian serta tak turut menghakimi pelaku.

"Biar ajalah aparat hukum yang melakukan prosesnya itu,"tutupnya

Sebelumnya, diberitakan seorang guru yang tega melakukan perbuatan cabul dengan memaksa muridnya seks oral adalah IA yang masih berusia 25 tahun.

IA adalah oknum guru di pesantren yang ada di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Bukan hanya sekali, aksi itu dilakukan IA berulang kali. Orang tua murid yang tidak terima dengan perbuatan langsung melaporkan IA ke polisian.

"Benar, pelaku kita amankan hari ini Senin (25/7) malam kemarin dan saat ini telah ditahan," kata Kasat Reskrim Polres Asahan AKP M Said Husein saat dimintai konfirmasi wartawan, Kamis (28/7/2022).

Said menjelaskan berdasarkan pengakuan IA, ada tiga santri yang menjadi korban perbuatannya. Ketiga korban pun telah dimintai keterangan oleh polisi.

"Termasuk pelapor ada tiga orang yang menjadi korban," jelasnya.

Bujuk rayu dilakukan IA agar korban bersedia menuruti permintaannya, mulai dari membangun kedekatan emosional dengan korban, memberikan uang jajan, serta makanan.

"Sehingga pelaku leluasa mengajak korban datang ke kamarnya. Kejadian tersebut juga sudah berulang kali dilakukannya," kata Said



Simak Video "Terjadi Lagi! Aksi Pelecehan Seksual di TransJakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(dpw/dpw)