Jambi

Beli Sabu yang Datang Garam, Bandar di Jambi Sekap Kurir 3 Hari

Ferdi Almunanda - detikSumut
Jumat, 13 Mei 2022 17:32 WIB
Ilustrasi sabu (Raja- detikcom)
Foto: Ilustrasi sabu (Raja- detikcom)
Jambi -

Sapriadi (36) bandar narkoba di Kabupaten Bungo, Jambi kesal lantaran ditipu saat membeli sabu. Sebab kurir pengantar pesanannya itu justru membawa garam. Tidak terima ditipu Sapriadi menyekap Riki Ricardi (33) yang menjadi kurir pengantar pesanannya.

Riki disekap selama tiga hari di Dusun Sungai Lilin, Kabupaten Bungo Jambi. Selama disekap korban bahkan sempat dianiaya, pelaku juga menghubungi keluarga korban untuk dimintai uang pengganti dari kerugian yang dialami Supriadi ketika ditipu beli sabu malah dikasih garam.

Kapolres Bungo, AKBP Guntur Saputro membenarkan peristiwa tersebut. Dia menjelaskan Sapriadi dan Riki sebenarnya tidak saling mengenal.

"Antara pelaku dan korban tidak saling kenal, hanya saja korban itu disekap oleh pelaku setelah pelaku ini merasa tertipu mau beli sabu dengan orang kenalan korban malah yang di kasih garam," kata Kapolres Bungo, AKBP Guntur Saputro kepada detikSumut, Jumat (13/5/2022).

Diterangkan Guntur, Sapriadi awalnya memesan narkoba jenis sabu dengan seseorang warga Sumbar yang diketahui bernama Nanda. Sabu yang rencana akan dipesan pelaku ini sebanyak 1 kg seharga Rp 65 juta. Di mana Rp50 juta sebagai uang jaminan dan Rp 15 juta sebagai pelunasan.

Riki yang sempat disekap saat diselamatkan polisi.Riki yang sempat disekap saat diselamatkan polisi. Foto: Istimewa

Nanda dan Sapriadi, kata Guntur menyepakati sabu 1 kg itu dikirimkan oleh kurir yang bernama Riki. Menurut dia, awalnya Riki sempat takut mengirimkan 1 kg sabu ke Sapriadi. Namun, Nanda mengatakan kepada Riki bahwa yang diantarkannya adalah garam barulah Riki bersedia, apalagi dengan upah Rp 10 juta.

"Sesampai mengantar kiriman itu, pelaku yang sudah menunggu bersama dua orang rekannya mengecek pesanan ternyata yang datang adalah garam, pelaku pun kesal lalu korban disekap," katanya.

"Pelaku ini sempat hubungi keluarga korban, saat itu korban disebut sebagai barang jaminan, pelaku meminta uang tebusan jika korban ingin dikembalikan dengan selamat. Pelaku meminta uang tebusan sebesar Rp 150 juta ke keluarga korban," terang Guntur.

Setelah tiga hari disekap, pelaku selalu memaksa agar korban segera menghubungi Nanda untuk kembalikan uang yang diberikannya itu sebesar Rp 65 juta.

"Nanda ini sampai sekarang tidak bisa dihubungi lagi, korban juga tidak tau di mana keberadaan Nanda itu karena dia juga tidak begitu kenal dekat dengan Nanda. Karena ngak bisa dihubungi Nanda itu makanya pelaku meminta tebusan ke keluarga korban untuk mengganti uang Supriadi itu," sebut Guntur.

Mengetahui Riki disekap, pihak keluarga korban kemudian membuat laporan ke polisi. Laporan itu dilayangkan pada Rabu (11/5) sekira pukul 12.00 WIB. Dari laporan itulah polisi mendalami kasus ini, hingga akhirnya polisi melakukan penyelidikan dan penangkapan.

"Kita dalami dulu kasus ini, dari hasil itu kita ambil keputusan untuk melakukan penangkapan karena ini ada warga yang disekap atau disandera kan makanya kita lakukan pengejaran. Dari hasil peta wilayah yang kita dapatkan, korban ini awalnya disekap di rumah pelaku, lalu kita menuju rumah pelaku ternyata kosong. Dan kita cari lagi, ternyata korban sudah dipindahkan ke kawasan kebun milik pelaku, di sanalah korban kita selamatkan dan pelaku kita tangkap," jelas mantan Kapolres Tanjabbarat ini.

Saat diselamatkan, terdapat sejumlah luka memar bekas aniaya pelaku dan beberapa rekan pelaku. "Hanya saja saat penangkapan, dua orang rekan Supriadi itu tidak berada di lokasi sehingga pelaku yang berhasil kita amankan. Korban ini juga awalnya tidak sendirian, dia disuruh antar barang kiriman oleh Nanda itu bersama dua orang rekannya pula, tetapi dua rekanya berhasil melarikan diri saat akan dilakukan penyekapan sehingga korban yang hanya disekap," ujar Guntur.



Simak Video "Panas! Anggota Dewan di Jambi Nyaris Baku Hantam dengan Warga"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)