Warung kopi biasanya identik dengan meja, kursi, aroma kopi, dan obrolan pengunjung. Namun, suasana berbeda terlihat di Warung By Tangga, Jalan Letjen Suprapto, Medan. Di tempat ini, pengunjung tak hanya bisa menikmati kopi, tetapi juga melihat berbagai artefak yang disebut telah berusia ratusan hingga ribuan tahun.
Benda-benda itu tersimpan di Rumah Budaya Tangga yang berada di area Warung By Tangga. Koleksinya beragam, mulai dari patung, lemari tradisional, guci, peralatan rumah tangga hingga benda yang berkaitan dengan tradisi masyarakat masa lalu.
Koleksi itu merupakan bagian dari benda-benda budaya yang disimpan oleh Jim Siahaan, Ketua Komite Taman Budaya. Ia memilih menyimpan dan merawat benda-benda tersebut karena ingin masyarakat dapat melihat dan mengenal peninggalan budaya secara langsung.
Salah satu koleksi yang ada di Rumah Budaya Tangga adalah patung pangulung balang. Benda itu dikenal dalam tradisi sebagai penjaga rumah dan dipercaya berkaitan dengan keselamatan penghuni.
Ada pula guci telur yang disebut telah berusia ratusan tahun. Selain itu, terdapat nejan dari Dairi, menurut Jim, benda yang berkaitan dengan penjagaan kuburan dan juga telah berusia ratusan tahun.
"Benda-benda ini bukan hanya barang lama. Masing-masing punya cerita, punya fungsi dan punya filosofi. Itu yang penting untuk dikenalkan kepada masyarakat," kata Jim, kepada tim detikSumut baru-baru ini.
Koleksi lainnya berupa singa-singa, yang dahulu ditempatkan di depan rumah tokoh atau orang yang dianggap bijak. Terdapat juga hombung, lemari tradisional Batak, serta tempat penyimpanan padi yang memiliki ornamen cicak yang dimaknai sebagai simbol kesuburan.
Rumah Budaya Tangga juga menyimpan nekara, salah satu benda berbentuk seperti alat musik perkusi. Jim menyebut koleksi itu berkaitan dengan sejarah panjang kebudayaan dan perdagangan benda-benda kuno di kawasan Asia.
"Kalau kita lihat satu per satu, sebenarnya banyak sekali cerita yang bisa disampaikan. Karena itu saya tidak mau hanya menaruh barangnya. Saya ingin ada penjelasan dan filosofi di balik setiap benda," ujarnya.
Keberadaan koleksi itu ternyata juga mendapat perhatian dari sejumlah tokoh. Jim menyebut, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon, sejumlah ahli sejarah, sejarawan dan budayawan Indonesia pernah berkunjung ke Rumah Budaya Tangga.
Selain itu, Wali Kota Semarang juga pernah berkunjung. Menurut Jim, para pengunjung tersebut mengapresiasi upayanya menyimpan benda-benda budaya dan memperkenalkannya kepada masyarakat.
Di sisi lain, koleksi yang semakin banyak membuat munculnya gagasan agar Rumah Budaya Tangga dikembangkan menjadi sebuah museum. Jim mengatakan, Kepala Museum Negeri Medan, Musri Hartati, pernah memintanya untuk mendirikan museum yang menampung koleksi artefak miliknya.
Meski demikian, Jim belum memutuskan untuk segera mendirikan museum. Ia masih mempertimbangkan berbagai hal, terutama mengenai tempat yang tepat serta konsep yang akan digunakan.
"Saya belum mau terburu-buru. Kalau menjadi museum, tempatnya harus tepat dan setiap barang juga harus punya filosofi. Jadi bukan sekadar mengumpulkan benda, tetapi bagaimana orang yang datang bisa memahami cerita dan nilai budaya di baliknya," katanya.
Saat ini, sebagian benda itu justru hadir berdampingan dengan aktivitas pengunjung yang datang menikmati kopi di Warung By Tangga. Bahkan sejumlah perabot seperti meja, kursi dan benda-benda vintage turut menjadi bagian dari suasana Rumah Budaya Tangga.
Jim berharap keberadaan Rumah Budaya Tangga dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal kembali berbagai benda dan cerita budaya yang semakin jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Artikel ini ditulis Hafizna Irasa Hasibuan, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom
Simak Video "Video: Momen Pedro Acosta-Alex Marquez Crash di Sprint Race MotoGP Jepang"
(nkm/nkm)