Perubahan Marga di Simalungun: Antara Identitas dan Pengaruh Sosial

A. Fahri Perdana Lubis - detikSumut
Rabu, 27 Mei 2026 08:31 WIB
Foto: Perempuan penjaja sarung di tiga raja, Simalungun, 1940 (Dok. Situs kitlv.nl)
Simalungun -

Perubahan penggunaan marga di masyarakat Simalungun menjadi salah satu pembahasan dalam buku Agama, Perubahan Sosial dan Identitas Etnik: Moralitas Agama dan Kultural di Simalungun karya Erond L. Damanik. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa perubahan agama, migrasi, dan lingkungan sosial turut memengaruhi identitas masyarakat Simalungun, termasuk penggunaan marga.

Penulis menjelaskan sebagian masyarakat Simalungun beragama Islam di sejumlah wilayah memilih menghilangkan marganya dan mengidentifikasi diri sebagai Melayu.

"Cara mudah yang dilakukan ialah dengan cara menghilangkan klan (marga) dimilikinya," tulis Erond dalam bukunya.

Fenomena tersebut disebut banyak terjadi di wilayah Simalungun bagian bawah seperti Bandar Marsilam, Bandar, Bandar Huluan, Gunung Maligas, Tanah Jawa hingga Siantar. Wilayah-wilayah tersebut didominasi masyarakat Jawa dan Melayu beragama Islam yang kemudian memengaruhi identitas masyarakat Simalungun setempat.

"Orang-orang Simalungun mengaburkan identitasnya dan memilih mengaku menjadi Melayu karena dianggap lebih 'comfort'," tulisnya lagi.

Selain itu, di kawasan perbatasan Danau Toba, sebagian masyarakat Simalungun disebut mengganti marganya agar identik dengan masyarakat Toba.

"Peneguhan orang Simalungun dikawasan ini menjadi orang Toba dilakukan dengan mengganti klannya menjadi klan orang Toba," tulis penulis.

Dalam buku itu dijelaskan sejumlah marga Simalungun seperti Damanik dan Sipayung disebut berubah menjadi marga Toba seperti Ambarita, Sagala, Gurning hingga Sinaga di beberapa wilayah perbatasan Danau Toba.

Penulis menilai perubahan identitas tersebut dipengaruhi perkembangan agama, migrasi penduduk, hingga perubahan sosial yang berlangsung sejak masa kolonial di Simalungun.

Meski demikian, buku tersebut juga menyebut masih ada masyarakat Simalungun yang tetap mempertahankan identitas budaya dan marganya di tengah perubahan sosial yang terjadi.

Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom.



Simak Video " Video: Ricuh Rapat Warga di Sumut, Kapolsek Lepas Tembakan ke Udara"

(afb/afb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork