Makna Bunga Rampai dalam Tradisi Melayu

Makna Bunga Rampai dalam Tradisi Melayu

Siti Asyaroh - detikSumut
Kamis, 16 Apr 2026 10:39 WIB
Makna Bunga Rampai dalan Tradisi Melayu
Foto: Bunga Rampai. (dok. ANTARA)
Medan -

Bunga rampai menjadi salah satu unsur penting dalam tradisi Melayu yang hingga kini masih digunakan dalam berbagai acara adat. Tidak sekadar campuran bunga harum, bunga rampai menyimpan begitu banyak nilai dalam kehidupan masyarakat Melayu.

Budayawan Melayu, M. Muhar menjelaskan bahwa bunga rampai merupakan campuran bunga-bunga harum yang diiris halus dan digunakan dalam berbagai perlengkapan adat. Kehadirannya tidak hanya memperindah suasana, tetapi juga mengandung nilai simbolis, estetika, hingga spiritual.

"Bunga rampai adalah campuran bunga-bunga harum yang diiris halus dan digunakan sebagai bagian dari perlengkapan adat. Dalam budaya Melayu, bunga rampai bukan sekadar hiasan, tetapi juga memiliki nilai simbolis, estetika, dan spiritual," tutur Muhar, Rabu (15/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Muhar mengatakan, komposisi bunga rampai tidak dibuat sembarangan. Jumlah bahan yang digunakan biasanya mengikuti hitungan ganjil, yakni tiga, lima, atau tujuh jenis bunga.

Angka-angka ini memiliki makna kosmologis dalam pandangan Melayu masa lampau.

ADVERTISEMENT

"Tujuh itu melambangkan petala, yaitu keyakinan kosmologi Melayu tentang lapisan bumi dan langit yang membawa tuah. Lima sebagai simbol spiritual Melayu yang berkaitan dengan kehambaan kepada Ilahi, sementara tiga melambangkan dimensi alam, yakni negeri atas (hijau), tengah (kuning), dan bawah (merah)," katanya.

Secara umum, bunga rampai dibuat dari bahan-bahan alami yang harum, seperti bunga mawar, melur atau melati, kenanga, cempaka, serta daun pandan untuk memperkuat aroma. Tak jarang, masyarakat juga menambahkan minyak wangi atau air mawar agar wanginya semakin semerbak.

Dalam praktiknya, bunga rampai kerap hadir di berbagai acara adat Melayu. Mulai dari pernikahan seperti penyambutan pengantin dan tabur bunga, ritual tepung tawar sebagai bentuk doa dan pemberkatan, hingga penyambutan tamu kehormatan dan upacara keagamaan tertentu.

Lebih dari itu, bunga rampai juga menyimpan makna filosofis yang dalam. Keharumannya melambangkan nama baik dan martabat, sekaligus menjadi doa dan harapan akan kebaikan.

Selain itu, bunga rampai juga merepresentasikan kesucian hati, keindahan, serta keharmonisan dalam kehidupan.

"Harum bunga rampai itu melambangkan suasana yang penuh berkah dan ketenangan. Jadi bukan hanya wangi, tetapi ada doa dan nilai yang menyertainya," tambahnya.

Di masa kini, penggunaan bunga rampai masih dapat dijumpai, terutama dalam acara pernikahan adat Melayu, kegiatan budaya, serta beberapa seremoni keagamaan. Bahkan, dalam tradisi lama, bunga rampai juga kerap diletakkan di dalam rumah, seperti di katil atau ruang tengah, sebagai penebar aroma sekaligus simbol kebaikan.

Namun demikian, Muhar mengakui bahwa dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan bunga rampai mulai berkurang dan lebih sering hadir dalam konteks acara adat atau momen khusus.

Meski begitu, keberadaan bunga rampai tetap menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian budaya Melayu menjaga harum tradisi agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Artikel ini ditulis Siti Asyaroh, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Warga Juwana di Pati Gelar Sedekah Laut, Larung Kepala Kerbau-Kambing"
[Gambas:Video 20detik]
(mjy/mjy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads