Tradisi pantun telah hidup dan berkembang ratusan tahun di tengah masyarakat Melayu. Bahkan, keberadaannya diperkirakan sudah ada sejak masa ketika masyarakat Melayu belum mengenal tulisan.
Dalam masa itu, pantun menjadi salah satu bentuk sastra lisan yang unik sekaligus menjadi cara masyarakat menyampaikan pesan melalui susunan kata yang indah dan penuh makna.
Budayawan Melayu, Tengku Muhammad Fauzi, mengatakan pantun tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana menyampaikan nasihat dengan cara yang santun. Menurutnya, pantun disusun dengan tata bahasa yang baik sehingga pesan yang disampaikan terasa halus dan mudah diterima oleh pendengar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pantun ini juga dipakai masyarakat Melayu untuk menyampaikan nasihat dengan kata yang disusun penuh santun dan tata bahasa yang baik," ujarnya, Senin (9/3/2026).
Ia menjelaskan, kemunculan pantun tidak lepas dari kebiasaan masyarakat Melayu yang gemar berdialog dan berbicara dengan pilihan kata yang teratur. Dari kebiasaan tersebut, lahirlah berbagai jenis pantun yang digunakan dalam beragam situasi, seperti pantun nasihat, pantun jenaka, hingga pantun yang digunakan dalam acara adat.
Dalam berbagai rangkaian adat Melayu, pantun sering menjadi pembuka acara yang dibawakan oleh tetua adat atau pembawa acara. Tradisi berbalas pantun juga dapat ditemukan dalam prosesi pernikahan masyarakat Melayu.
Dalam prosesi ini, perwakilan dari kedua belah pihak yang dikenal sebagai telangkai akan saling berbalas pantun sebagai bentuk penghormatan antara keluarga mempelai.
Tidak hanya dalam acara resmi, pantun juga hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Melayu. Pantun kerap digunakan dalam percakapan santai, canda, atau senda gurau.
Bahkan, pantun juga bisa menjadi cara menyampaikan kritik atau menyelesaikan persoalan agar suasana menjadi lebih cair dan tidak menimbulkan konflik.
Namun, ada etika yang perlu diperhatikan ketika berpantun. Menurut Fauzi, pantun harus disampaikan dengan kata-kata santun dan tidak merendahkan atau menghina lawan berpantun.
Selain itu, intonasi suara juga perlu dijaga agar tetap halus dan lembut, serta isi pantun tidak keluar dari konteks pembicaraan. Fauzi menilai pantun masih sangat relevan bagi generasi muda saat ini.
Ia menyebut pantun sebagai karya sastra yang fleksibel dan tidak lekang oleh waktu karena dapat digunakan di berbagai situasi dan kalangan, termasuk oleh anak muda yang kreatif.
Menurutnya, pantun juga dapat menjadi media untuk membentuk karakter generasi muda sekaligus memperkuat jati diri masyarakat Melayu. Ia berharap generasi muda menjadikan pantun sebagai kebanggaan bersama, terlebih pantun telah diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO pada tahun 2020.
"Untuk generasi muda, pantun seharusnya menjadi kebanggaan kita bersama untuk terus dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya," pungkasnya.
Artikel ini ditulis Siti Asyaroh, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom.
Simak Video "Video: Mempertahankan Budaya Betawi di Tengah Modernisasi"
[Gambas:Video 20detik]
(mjy/mjy)











































