Tradisi lisan Batak merupakan salah satu warisan budaya yang telah lama hidup dan berkembang di tengah masyarakat Sumatera Utara. Tradisi ini mencakup berbagai bentuk tutur seperti umpasa, pantun, dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam praktiknya, tradisi lisan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampaian nilai, norma, serta identitas budaya masyarakat. Melalui umpasa misalnya, tersirat nasihat, aturan hidup, hingga doa yang disampaikan dalam bahasa daerah.
Dalam kajian Sosiolinguistik, tradisi lisan dipandang sebagai sarana penting dalam mempertahankan bahasa sekaligus mentransmisikan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hal ini juga sejalan dengan pandangan Koentjaraningrat yang menyebutkan bahwa bahasa merupakan bagian integral dari sistem kebudayaan.
Baca juga: 7 Tradisi Paskah Paling Unik di Indonesia |
Mulai Tergerus Zaman
Namun, seiring perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup, keberadaan tradisi lisan Batak mulai menghadapi tantangan. Penggunaan bahasa daerah sebagai medium utama tradisi ini semakin berkurang, terutama di kalangan generasi muda.
Dosen sastra, Dr. Muharrina Harahap, S.S., M.Hum., mengungkapkan bahwa fenomena ini menjadi salah satu indikasi melemahnya praktik budaya tersebut.
"Generasi sekarang ini mulai jarang menguasai penggunaan bahasa daerah," ujarnya.
Padahal, menurutnya, melalui bentuk-bentuk tutur seperti umpasa dan cerita rakyat, identitas budaya masyarakat secara tidak langsung terjaga.
"Melalui karya-karya itu, otomatis menjaga identitas budaya. Misalnya umpasa, banyak berisi aturan-aturan dan nilai-nilai yang diwariskan," jelasnya.
Berkurangnya penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari turut berdampak pada semakin jarangnya tradisi lisan dipraktikkan, baik dalam lingkungan keluarga maupun kegiatan adat.
Simak Video "Video: Fadli Zon Ingin Tempe-Dangdut Masuk Daftar Warisan Dunia UNESCO"
(astj/astj)