Tradisi Lisan Batak, Warisan Budaya yang Mulai Tergerus di Era Digital

Tradisi Lisan Batak, Warisan Budaya yang Mulai Tergerus di Era Digital

A. Fahri - detikSumut
Rabu, 01 Apr 2026 13:01 WIB
Ilustrasi Gemini ai tentang tradisi lisan di batak (Foto: Gemini AI)
Foto: Ilustrasi Gemini ai tentang tradisi lisan di batak (Foto: Gemini AI)
Medan -

Tradisi lisan Batak merupakan salah satu warisan budaya yang telah lama hidup dan berkembang di tengah masyarakat Sumatera Utara. Tradisi ini mencakup berbagai bentuk tutur seperti umpasa, pantun, dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam praktiknya, tradisi lisan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampaian nilai, norma, serta identitas budaya masyarakat. Melalui umpasa misalnya, tersirat nasihat, aturan hidup, hingga doa yang disampaikan dalam bahasa daerah.

Dalam kajian Sosiolinguistik, tradisi lisan dipandang sebagai sarana penting dalam mempertahankan bahasa sekaligus mentransmisikan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hal ini juga sejalan dengan pandangan Koentjaraningrat yang menyebutkan bahwa bahasa merupakan bagian integral dari sistem kebudayaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mulai Tergerus Zaman

Namun, seiring perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup, keberadaan tradisi lisan Batak mulai menghadapi tantangan. Penggunaan bahasa daerah sebagai medium utama tradisi ini semakin berkurang, terutama di kalangan generasi muda.

Dosen sastra, Dr. Muharrina Harahap, S.S., M.Hum., mengungkapkan bahwa fenomena ini menjadi salah satu indikasi melemahnya praktik budaya tersebut.

ADVERTISEMENT

"Generasi sekarang ini mulai jarang menguasai penggunaan bahasa daerah," ujarnya.

Padahal, menurutnya, melalui bentuk-bentuk tutur seperti umpasa dan cerita rakyat, identitas budaya masyarakat secara tidak langsung terjaga.

"Melalui karya-karya itu, otomatis menjaga identitas budaya. Misalnya umpasa, banyak berisi aturan-aturan dan nilai-nilai yang diwariskan," jelasnya.

Berkurangnya penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari turut berdampak pada semakin jarangnya tradisi lisan dipraktikkan, baik dalam lingkungan keluarga maupun kegiatan adat.

Upaya Pelestarian di Era Digital

Di tengah tantangan tersebut, berbagai upaya terus dilakukan untuk menjaga keberlangsungan tradisi lisan Batak. Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi digital sebagai media pelestarian.

Lembaga seperti Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara aktif mengembangkan program literasi dan kebahasaan, termasuk mempublikasikan konten budaya melalui media sosial.

Kegiatan seperti pengenalan cerita rakyat, pembacaan puisi, hingga penyebaran konten berbahasa daerah menjadi langkah strategis untuk mendekatkan tradisi lisan kepada generasi muda.

Digitalisasi dinilai menjadi peluang baru agar tradisi lisan tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Perlu Kesadaran Kolektif

Meski demikian, pelestarian tradisi lisan tidak dapat bergantung pada lembaga semata. Diperlukan kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, untuk kembali menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, tradisi lisan Batak tidak hanya menjadi bagian dari masa lalu, tetapi tetap hidup sebagai identitas budaya di tengah era digital.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Fadli Zon Ingin Tempe-Dangdut Masuk Daftar Warisan Dunia UNESCO"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads