Melihat Siu San Keng, Vihara Tertua di Medan

Olivia Andrea - detikSumut
Selasa, 03 Mar 2026 08:30 WIB
Foto: Vihara Siu San Keng. (Olivia Andrea/detikSumut)
Medan -

Salah satu jejak sejarah penting komunitas Tionghoa di Sumatera Utara dapat ditemukan di Vihara Siu San Keng. Tempat ibadah umat Buddha ini dikenal sebagai vihara tertua di Kota Medan yang hingga sekarang tetap aktif menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus budaya masyarakat.

Vihara Siu San Keng berlokasi di Jalan Komodor Laut Yos Sudarso, Labuhan Deli, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan, Sumatera Utara. Dibangun pada tahun 1890, bangunan bersejarah ini telah berdiri lebih dari 100 tahun dan menjadi salah satu warisan budaya yang memiliki nilai historis tinggi di Kota Medan.

Ketua Vihara Siu San Keng, Sie Kok Yong, menjelaskan berdirinya vihara tersebut berkaitan erat dengan perkembangan komunitas Tionghoa di Medan pada akhir abad ke-19.Menurutnya, vihara ini didirikan oleh para tokoh Tionghoa bersama para perantau yang menetap di kawasan Pelabuhan Labuhan Deli, yang saat itu merupakan pusat aktivitas perdagangan penting. Salah satu pendirinya yaitu Tjong A Fie bersama 11 orang lainnya dari tahun 1890 - 1894.

"Sejak awal berdiri pada tahun 1890, vihara ini menjadi tempat ibadah sekaligus pusat berkumpulnya umat hingga sekarang," ujar ketua vihara Siu San Keng, Sie Kok Yong, Senin (2/3/2026).

Ia menambahkan, keberadaan vihara menjadi bukti nyata peran masyarakat Tionghoa dalam perjalanan sosial maupun ekonomi Kota Medan sejak masa lampau.

"Selain berfungsi sebagai tempat peribadatan, Vihara Siu San Keng juga menjadi ruang pelestarian budaya Tionghoa yang diwariskan lintas generasi. Berbagai tradisi seperti sembahyang rutin, perayaan Tahun Baru Imlek, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan terus dilaksanakan di tempat ini," katanya.

Sie Kong Yong menambahkan, hal menarik lainnya adalah lokasi vihara yang berdampingan dengan Masjid Raya Al Osmani, masjid tertua peninggalan Kesultanan Deli. Kedekatan dua rumah ibadah dari agama berbeda tersebut mencerminkan nilai toleransi dan kehidupan harmonis masyarakat Medan yang telah terjalin sejak lebih dari satu abad lalu.

"Keberadaan vihara dan masjid dalam satu kawasan menjadi simbol kuat bahwa keberagaman telah lama menjadi identitas masyarakat Medan," tambahnya.

Secara arsitektur, Vihara Siu San Keng didominasi warna merah khas bangunan Tionghoa. Ornamen naga, patung dewa-dewi, serta ukiran tradisional menghiasi bagian pintu hingga atap bangunan. Meski telah beberapa kali mengalami renovasi, bentuk asli vihara tetap dipertahankan guna menjaga nilai sejarah sekaligus memberikan kenyamanan bagi umat yang beribadah.

Hingga kini, Vihara Siu San Keng tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah umat Buddha, tetapi juga menjadi destinasi wisata religi yang kerap dikunjungi masyarakat maupun wisatawan. Saat perayaan Imlek, ratusan umat memadati vihara untuk berdoa dan mengikuti rangkaian ritual keagamaan dengan penuh khidmat.

Sebagai vihara tertua di Medan, Siu San Keng menjadi simbol perjalanan panjang akulturasi budaya dan keberagaman masyarakat. Keberadaannya menunjukkan bahwa sejarah Medan dibangun oleh berbagai etnis yang hidup berdampingan secara damai, sekaligus menjadikan vihara ini tetap hidup sebagai ruang spiritual dan budaya hingga masa kini.



Simak Video "Video Mendikdasmen Bicara Kunci Jalin Toleransi: Perkuat 3H"

(nkm/nkm)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork